Penelitian: Otak Lebih Tajam Setelah Berhenti Merokok
Penelitian UCL terbaru menunjukkan berhenti merokok, bahkan di usia 40 tahun ke atas, secara signifikan memperlambat penurunan fungsi kognitif dan risiko demensia.
JAKARTA, JClarity – Keputusan untuk menghentikan kebiasaan merokok ternyata tidak hanya membawa manfaat bagi kesehatan paru-paru dan jantung, tetapi juga memberikan dampak pemulihan yang signifikan pada fungsi kognitif. Sebuah studi terbaru yang sangat relevan dan dipublikasikan dalam jurnal medis bergengsi, The Lancet Healthy Longevity, mengindikasikan bahwa otak memiliki kemampuan luar biasa untuk menjadi lebih tajam setelah individu berhasil melepaskan diri dari paparan nikotin, bahkan di usia lanjut.
Penelitian yang dipimpin oleh tim dari University College London (UCL) ini melibatkan lebih dari 9.000 peserta yang berusia 40 tahun ke atas. Hasil riset secara tegas membantah gagasan bahwa kerusakan kognitif akibat merokok bersifat permanen, dengan menunjukkan bahwa orang yang berhenti merokok mengalami penurunan fungsi kognitif yang jauh lebih lambat dibandingkan dengan mereka yang terus merokok.
Dr. Mikaela Bloomberg, penulis pertama studi tersebut, menjelaskan bahwa manfaatnya terasa pada berbagai aspek. Secara spesifik, mantan perokok mencatat penurunan daya ingat sekitar tiga hingga empat bulan lebih sedikit setiap tahunnya, dan penurunan kelancaran berbahasa enam bulan lebih sedikit dibandingkan kelompok perokok aktif. Penurunan kognitif yang melambat ini secara langsung berkorelasi dengan penurunan risiko demensia di masa depan, menegaskan bahwa tidak ada kata terlambat untuk berhenti merokok demi kesehatan otak.
Para peneliti juga menyoroti mekanisme di balik perbaikan ini. Merokok diketahui merusak pembuluh darah yang menyuplai oksigen ke otak, memicu peradangan kronis, dan merusak sel-sel otak melalui stres oksidatif dari radikal bebas. Dengan berhenti merokok, otak memulai proses penyembuhan dengan memperbaiki aliran darah dan mengurangi tingkat peradangan yang sebelumnya menghambat pemrosesan informasi yang cepat dan akurat. Bukti lain bahkan menunjukkan bahwa menghindari rokok merupakan salah satu faktor gaya hidup paling krusial untuk mempertahankan fungsi kognitif yang baik di usia tua, jauh lebih penting daripada beberapa perilaku sehat lainnya.
Temuan yang dipublikasikan pada Oktober 2025 ini memberikan motivasi baru yang kuat bagi perokok dewasa di Indonesia, yang notabene memiliki angka perokok aktif yang tinggi. Ini adalah pesan optimistis bahwa dengan mengambil langkah berhenti, seseorang tidak hanya berinvestasi pada usia yang lebih panjang, tetapi juga pada kualitas hidup kognitif yang prima—mempertahankan kemampuan berpikir, fokus, dan mengingat hingga usia senja.