Sains

Penelitian Ini Jelaskan Bagaimana Puting Beliung yang Merusak Cimenyan 2021 Terbentuk

Penelitian BRIN menjelaskan puting beliung Cimenyan 2021 yang merusak adalah Gale Tornado F0 dengan durasi 40 menit, dibentuk oleh mekanisme bow echo mesovortex.

BANDUNG · Monday, 27 October 2025 06:00 WITA · Dibaca: 61
Penelitian Ini Jelaskan Bagaimana Puting Beliung yang Merusak Cimenyan 2021 Terbentuk

BANDUNG, JClarity – Sebuah studi meteorologi terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akhirnya mengungkap secara ilmiah mekanisme di balik terbentuknya puting beliung merusak yang menerjang Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, pada 28 Maret 2021 silam. Penelitian ini menyoroti karakteristik puting beliung tersebut yang memiliki durasi tidak lazim dan daya rusak setara dengan tornado skala F0.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal *Meteorology and Atmospheric Physics* pada 21 Oktober 2025 ini secara spesifik mengidentifikasi puting beliung Cimenyan sebagai fenomena High wind associated with bow echo mesovortex. Fenomena angin ekstrem tersebut dilaporkan berlangsung hingga 40 menit, jauh melampaui durasi puting beliung biasa yang umumnya hanya terjadi dalam hitungan menit. Kecepatan angin di Cimenyan saat itu tercatat mencapai 56 kilometer per jam, yang diklasifikasikan setara dengan *Gale Tornado* atau tornado kategori F0.

Profesor Klimatologi BRIN, Erma Yulihastin, selaku ketua tim peneliti, menjelaskan bahwa riset ini merupakan yang pertama menjelaskan mekanisme terjadinya *Gale Tornado* di Indonesia menggunakan analisis komprehensif. Tim tersebut memanfaatkan kombinasi data dari *Automatic Weather Station* (AWS), radar X-band SANTANU, dan model numerik resolusi tinggi *Weather Research and Forecasting* (WRF) untuk membedah dinamika atmosfer.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa bencana pada empat tahun lalu yang merusak 298 unit rumah dan sejumlah fasilitas umum tersebut merupakan bagian dari sistem puting beliung kembar. Mekanisme utamanya dipicu oleh pembentukan awan Cumulonimbus (Cb) yang sangat cepat dan didukung oleh pembentukan konvergensi angin permukaan di sekitar Cimenyan. Sementara itu, faktor regional seperti daerah belokan angin (*shearline*) di Jawa Barat bagian tengah dan sirkulasi siklonik di Samudera Hindia juga berkontribusi pada intensitas kejadian ekstrem tersebut.

Erma Yulihastin menekankan bahwa temuan ini penting untuk menjadi landasan mitigasi bencana ke depan. "Puting beliung tidak bisa dianggap remeh lagi. Apalagi kejadian seperti ini diprediksi akan semakin meningkat frekuensi dan intensitasnya karena dampak perubahan iklim," ujar Erma. Penelitian ini sekaligus menegaskan perlunya peningkatan sistem peringatan dini yang mampu mendeteksi fenomena angin puting beliung yang bersifat sangat lokal dan sulit diprediksi.

Login IG