Sains

Peneliti Ungkap Menguap Bukan Karena Kekurangan Oksigen

Peneliti dari Johns Hopkins University menegaskan bahwa menguap bukan karena kurang oksigen, melainkan berfungsi sebagai mekanisme alami tubuh untuk mendinginkan otak. Hipotesis termoregulasi ini didukung studi terbaru.

Jakarta · Monday, 27 October 2025 08:00 WITA · Dibaca: 65
Peneliti Ungkap Menguap Bukan Karena Kekurangan Oksigen

Jakarta, JClarity – Sebuah keyakinan yang telah lama dipegang masyarakat umum mengenai alasan di balik aktivitas menguap akhirnya terpatahkan oleh hasil penelitian ilmiah terbaru. Para ahli perilaku menegaskan bahwa menguap, sebuah perilaku universal yang dilakukan oleh hampir semua makhluk bertulang belakang, bukanlah respons otomatis tubuh terhadap kekurangan oksigen, melainkan memiliki fungsi biologis yang jauh lebih vital.

Teori lama yang menyebutkan bahwa menguap terjadi untuk meningkatkan pasokan oksigen atau mengeluarkan karbon dioksida telah diuji dan terbukti salah oleh sains. Studi yang dipublikasikan sejak tahun 1980-an menunjukkan bahwa memanipulasi kadar oksigen atau karbondioksida di udara sama sekali tidak memengaruhi frekuensi atau durasi seseorang menguap.

Profesor Andrew Gallup, ahli perilaku terkemuka dari Johns Hopkins University, menjelaskan bahwa fungsi utama menguap adalah sebagai mekanisme alami untuk mendinginkan otak, sebuah konsep yang dikenal sebagai hipotesis termoregulasi. Otak, yang menghasilkan panas dari aktivitas saraf yang intens, membutuhkan proses pendinginan untuk menjaga fungsi kognitifnya tetap optimal.

Mekanisme pendinginan ini bekerja layaknya radiator mobil. Ketika seseorang menguap, ia menarik napas dalam-dalam yang menyebabkan udara yang lebih dingin masuk melintasi permukaan lembap di area mulut dan hidung. Proses penguapan dan pertukaran udara ini membantu membuang panas dari otak. Selain itu, peregangan besar pada rahang, leher, dan wajah saat menguap juga meningkatkan sirkulasi darah ke tengkorak, yang selanjutnya membantu proses termoregulasi tersebut.

Penelitian oleh tim lain, termasuk studi dari University of Vienna dan Princeton University, mendukung temuan ini dengan mengamati bahwa frekuensi menguap cenderung meningkat atau paling sering terjadi pada rentang suhu udara tertentu, di mana pendinginan otak menjadi paling efektif. Jika suhu lingkungan terlalu panas, misalnya lebih panas dari suhu tubuh, mekanisme pendinginan melalui menguap justru tidak akan terjadi.

Selain pendinginan otak, menguap juga diidentifikasi memiliki fungsi lain sebagai 'tombol transisi' yang membantu otak beralih dari satu kondisi ke kondisi berikutnya, misalnya dari mengantuk ke kondisi yang lebih waspada atau fokus. Menguap juga memiliki dimensi sosial, di mana fenomena menguap menular dikaitkan dengan rasa empati dan koneksi sosial antarindividu.

Login IG