Sains

Peneliti BRIN Gabungkan Fotonika dan AI untuk Deteksi Racun Tanaman.

Peneliti BRIN gabungkan teknologi fotonika dan AI untuk mengembangkan sistem pertanian cerdas. Fokus utamanya adalah deteksi racun tanaman, seperti pada kentang.

Jakarta · Friday, 14 November 2025 13:00 WITA · Dibaca: 47
Peneliti BRIN Gabungkan Fotonika dan AI untuk Deteksi Racun Tanaman.

JAKARTA, JClarity – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan terobosan signifikan dalam teknologi pertanian dengan menggabungkan prinsip kerja fotonika dan kecerdasan buatan (AI). Inovasi ini bertujuan untuk menciptakan sistem pertanian cerdas yang mampu mendeteksi kandungan racun pada tanaman secara akurat, sekaligus meningkatkan efisiensi dan keamanan pangan nasional.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Fotonika BRIN, Sensus Wijonarko, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan bagian integral dari visi pertanian presisi. Pertanian presisi memanfaatkan data dan teknologi, termasuk sensor, Internet of Things (IoT), big data, otomatisasi, dan blockchain, untuk pengelolaan sumber daya yang optimal.

Sensus menambahkan bahwa teknologi fotonika, yang bekerja menggunakan cahaya alih-alih elektron, memainkan peran krusial dalam inovasi ini. Aplikasi berbasis cahaya ini telah dikembangkan untuk berbagai keperluan, mulai dari pengukuran kekerasan biji dan tingkat kecerahan kapulaga, hingga yang paling penting, pendeteksian kandungan racun pada komoditas seperti kentang. Pendekatan ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjamin keamanan produk pangan.

Di sisi lain, AI berfungsi meniru kemampuan berpikir manusia untuk membuat persepsi dan pengambilan keputusan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Fotonika BRIN lainnya, Edi Kurniawan, menyebut bahwa AI, yang merupakan payung besar dari machine learning dan deep learning, memungkinkan komputer mengenali pola dan mengklasifikasikan data dengan akurasi tinggi. BRIN sendiri telah memanfaatkan AI untuk mengklasifikasi 11 spesies daun mangrove dan mendeteksi enam jenis penyakit padi dari citra daun.

Kolaborasi antara fotonika dan AI, didukung oleh mikrokontroler sebagai otak pengendali sistem smart farming, diharapkan mampu menciptakan sistem pertanian yang modern, efisien, dan ramah lingkungan. Sistem ini telah diuji coba di beberapa lokasi, termasuk Cikajang, Garut, dan Jeneponto, Sulawesi Selatan, dengan hasil yang menunjukkan peningkatan efisiensi penggunaan waktu, tenaga, dan air secara signifikan.

Login IG