Pendidikan

Pemprov Jateng Berencana Kembalikan Sistem Enam Hari Sekolah di SMA dan SMK, Begini Alasannya

Pemprov Jateng mengkaji pengembalian sistem enam hari sekolah untuk SMA/SMK. Alasannya, hasil kajian menunjukkan banyak orang tua bekerja 6-7 hari, sehingga anak rentan tanpa pengawasan satu hari saat libur dua hari. Kebijakan ini juga untuk mengatasi kelelahan siswa. Masih dikaji dan akan berlaku semester depan.

Semarang · Monday, 24 November 2025 11:00 WITA · Dibaca: 22
Pemprov Jateng Berencana Kembalikan Sistem Enam Hari Sekolah di SMA dan SMK, Begini Alasannya

SEMARANG, JClarity – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) tengah mengkaji secara komprehensif rencana pengembalian kebijakan sistem enam hari sekolah untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayahnya. Wacana ini muncul menyusul hasil kajian yang menunjukkan adanya pergeseran tujuan dari kebijakan lima hari sekolah yang telah berjalan sebelumnya.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menjelaskan bahwa tujuan awal penetapan lima hari sekolah adalah untuk memberikan waktu luang lebih kepada anak-anak agar dapat berkumpul dan berinteraksi bersama keluarga di akhir pekan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak orang tua, yang justru bekerja hingga enam bahkan tujuh hari dalam sepekan.

“Dengan kebijakan lima hari sekolah, ada dua hari libur anak. Maka, ada satu hari yang tanpa pengawasan,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yasin tersebut. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terkait pengawasan anak-anak, yang berpotensi memicu kerentanan terhadap hal-hal negatif saat berada di luar pengawasan orang tua.

Pengembalian penerapan enam hari sekolah, menurut Pemprov Jateng, diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada anak, sekaligus menjadi komitmen dalam menjalankan kesejahteraan anak. Selain itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng juga menyebut kebijakan ini diambil untuk mengatasi kelelahan fisik dan mental siswa akibat padatnya jam belajar dalam sistem lima hari sekolah yang berimplikasi pada waktu tempuh belajar yang lebih panjang setiap harinya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa rencana penerapan ini masih dalam tahap pengkajian. Kajian tersebut dilakukan secara mendalam, melibatkan akademisi, pakar pendidikan, perguruan tinggi, serta berbagai elemen masyarakat dan masukan dari legislatif, termasuk mengakomodasi adanya petisi penolakan yang muncul di masyarakat.

Sebagai langkah persiapan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng dilaporkan telah melakukan rotasi besar-besaran terhadap guru hingga kepala sekolah. Upaya ini dilakukan untuk memindahtugaskan tenaga pendidik agar mengajar lebih dekat dengan domisili atau homebase mereka, sebagai langkah efisiensi dan kesiapan menyambut kembalinya sistem enam hari sekolah yang direncanakan berlaku pada semester mendatang.

Login IG