Pemerintah AS Shutdown, Ribuan Pegawai NASA Dirumahkan.
Pemerintah AS resmi shutdown pada 1 Oktober 2025 karena gagalnya kesepakatan anggaran di Kongres. Lebih dari 15.000 pegawai NASA dirumahkan tanpa gaji.
JAKARTA, JClarity – Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi memasuki fase penutupan operasional (shutdown) pada 1 Oktober 2025, setelah Kongres gagal mencapai kesepakatan untuk meloloskan undang-undang pendanaan (anggaran) bagi tahun fiskal 2026. Akibatnya, National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa sipil AS, menjadi salah satu lembaga yang paling terpukul, dengan lebih dari 80% pegawainya dirumahkan sementara tanpa gaji (furlough).
Penutupan ini memaksa NASA untuk menghentikan hampir seluruh kegiatan hariannya. Dari total 18.218 pegawai negeri sipil NASA, sebanyak 15.094 orang telah diberitahu untuk tinggal di rumah. Para pegawai yang dirumahkan ini tidak akan menerima gaji selama periode shutdown, meskipun secara historis mereka akan menerima gaji kembali (back pay) setelah pemerintah kembali beroperasi normal.
Kegagalan politik di Washington D.C. ini dipicu oleh kebuntuan partisan mengenai tingkat belanja federal, pembatalan bantuan luar negeri, dan subsidi asuransi kesehatan, sehingga Parlemen tidak dapat menyetujui anggaran sebelum batas waktu. Ini adalah penutupan pemerintah federal AS yang ke-11 dalam sejarah modern dan yang pertama sejak periode 2018–2019.
Meskipun sebagian besar operasinya dihentikan, sekitar 3.100 pegawai NASA diklasifikasikan sebagai 'dikecualikan' (excepted) dan tetap bertugas. Mereka adalah staf yang dianggap penting untuk menjalankan misi yang tidak dapat dihentikan tanpa membahayakan keselamatan astronaut, perangkat keras penting, atau untuk melindungi kehidupan dan properti.
Aktivitas yang tetap berjalan selama penutupan meliputi operasi Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), pemantauan satelit, dan program eksplorasi Bulan 'Artemis'. Pengecualian pada Program Artemis ini mencerminkan dorongan NASA untuk menjaga momentum agar misi Artemis 2, yang bertujuan menerbangkan empat awak mengelilingi Bulan, dapat diluncurkan sesuai jadwal, yaitu paling cepat 5 Februari 2026.
Namun, dampak shutdown terasa luas di bidang sains dan publik. Sebagian besar program penelitian, hibah sains, dan pengembangan teknologi NASA kini tertunda. Selain itu, upaya keterlibatan publik seperti pusat pengunjung, NASA TV, dan platform media sosial agensi tersebut telah 'mati', membatasi kemampuan NASA untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Kontraktor juga menghadapi gangguan, terutama karena ketiadaan pengawasan dari rekan-rekan NASA yang dirumahkan.
Situasi ini terjadi di tengah ketidakpastian finansial yang lebih besar, termasuk proposal untuk potensi pengurangan dana NASA secara keseluruhan di tahun fiskal mendatang, dan ancaman pengurangan staf permanen (RIFs) oleh administrasi Presiden Donald Trump. Hingga saat ini, belum ada resolusi yang jelas dari Kongres mengenai kapan pendanaan pemerintah akan disetujui, menyebabkan ribuan pegawai federal, termasuk para ilmuwan dan insinyur antariksa, berada dalam masa penantian yang penuh kekhawatiran.