Sains

**Para Ahli Ungkap Penyebab Kematian Lebih dari 5 Miliar Bintang Laut: Mengganggu Ekosistem Amerika Utara**

Para ahli akhirnya mengungkap penyebab kematian lebih dari 5 miliar bintang laut di Amerika Utara: bakteri Vibrio pectenicida. Kehancuran ini memicu ledakan bulu babi dan menghilangkan 95% hutan kelp.

Jakarta · Wednesday, 05 November 2025 12:00 WITA · Dibaca: 53
**Para Ahli Ungkap Penyebab Kematian Lebih dari 5 Miliar Bintang Laut: Mengganggu Ekosistem Amerika Utara**

JAKARTA, JClarity – Setelah lebih dari satu dekade menjadi misteri ekologis terbesar di lautan, para ilmuwan akhirnya berhasil mengidentifikasi penyebab di balik epidemi masif yang telah menewaskan lebih dari 5 miliar bintang laut di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara sejak tahun 2013. Penemuan ini menjadi terobosan penting untuk upaya konservasi, mengingat gangguan besar yang ditimbulkan pada ekosistem pesisir, termasuk hutan rumput laut (kelp forest).

Penyakit mematikan ini dikenal sebagai Sea Star Wasting Syndrome (SSWD) atau Sindrom Pengerutan Bintang Laut. Hasil penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Nature Ecology & Evolution mengungkap bahwa biang keladinya adalah bakteri, yakni strain dari genus Vibrio pectenicida. Strain bakteri ini diisolasi dari cairan tubuh (coelomic fluid) bintang laut yang sakit dan dikonfirmasi melalui eksperimen laboratorium bahwa paparannya menyebabkan gejala SSWD, di mana bintang laut mengalami lesi putih, lengan terlepas, dan pada akhirnya meleleh menjadi massa berlendir.

Epidemi ini telah menyerang lebih dari 20 spesies bintang laut dari Alaska hingga Baja California, Meksiko. Salah satu spesies yang paling parah terkena dampaknya adalah Bintang Laut Bunga Matahari (Pycnopodia helianthoides), predator besar yang dapat tumbuh sebesar ban sepeda, dengan populasi yang menyusut hingga lebih dari 90% dalam lima tahun pertama wabah. Akibatnya, spesies ini kini diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah (*critically endangered*).

Dampak ekologis dari hilangnya bintang laut sangat meluas karena mereka merupakan spesies kunci (keystone species) yang vital dalam menjaga keseimbangan komunitas laut. Khususnya, Bintang Laut Bunga Matahari berperan sebagai pengendali populasi bulu babi (sea urchin). Dengan lenyapnya predator utama ini, terjadi ledakan populasi bulu babi yang tak terkendali. Bulu babi yang berlimpah kemudian mengonsumsi rumput laut secara berlebihan, menghabiskan sekitar 95% hutan kelp di California Utara dalam satu dekade terakhir, mengubah ekosistem yang kaya keanekaragaman hayati menjadi 'padang bulu babi' (urchin barrens).

Para peneliti internasional dari institusi seperti Hakai Institute, University of British Columbia (UBC), dan University of Washington menekankan bahwa penemuan patogen ini membuka jalan bagi upaya pemulihan yang lebih terfokus. Selain itu, mereka tengah mendalami lebih lanjut hubungan antara bakteri Vibrio pectenicida, yang diketahui dapat berkembang biak di perairan hangat, dengan kenaikan suhu laut yang dipicu oleh perubahan iklim, menunjukkan potensi korelasi antara SSWD dan kondisi lingkungan global. Upaya restorasi, termasuk program penangkaran dan reintroduksi bintang laut yang resisten, kini menjadi fokus utama untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem pesisir.

Login IG