Para Ahli Ungkap Penyebab Harga Emas Lewati US$ 3.800.
Harga emas menembus rekor US$ 3.800. Para ahli mengungkap penyebab utamanya adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan risiko geopolitik global.
JAKARTA, JClarity – Harga emas dunia berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa, melewati level psikologis US$ 3.800 per ounce, dipicu oleh kombinasi faktor fundamental makroekonomi dan ketidakpastian geopolitik global. Para analis dan pengamat pasar komoditas sepakat bahwa lonjakan harga ini utamanya didorong oleh ekspektasi pasar yang meningkat terhadap pelonggaran kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Senin, 29 September 2025, emas spot (XAU/USD) dilaporkan melonjak 1,46% mencapai US$ 3.814,90 per ounce, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember bahkan menguat 0,91% menjadi US$ 3.843,60 per ounce. Kenaikan spektakuler ini mengukuhkan posisi emas sebagai aset safe haven yang paling diminati di tengah gejolak pasar global.
Penyebab utama dari reli harga emas ini, menurut sejumlah analis, adalah pelemahan signifikan Dolar AS dan prospek pemangkasan suku bunga The Fed. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat melemah 0,2% terhadap mata uang utama lainnya, yang secara otomatis membuat emas yang dibanderol dalam Dolar AS menjadi lebih murah dan menarik bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Selain itu, data inflasi AS yang dianggap terkendali, khususnya Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Inti bulan Agustus, meningkatkan optimisme pelaku pasar bahwa The Fed akan melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter. Ketua The Fed, Jerome Powell, dan beberapa pejabat lainnya sebelumnya telah mengisyaratkan adanya penyeimbangan yang rumit antara mengendalikan inflasi dan mendukung pasar tenaga kerja. Namun, pasar kini mengantisipasi penurunan suku bunga lanjutan sebesar 50 basis poin (bp) sebelum akhir tahun 2025, yang merupakan faktor bullish kuat bagi logam mulia.
Faktor kedua yang memperkuat permintaan emas adalah meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian politik di berbagai kawasan. Ketegangan perdagangan global, risiko politik internal di Amerika Serikat—seperti potensi penutupan pemerintahan (shutdown) dan isu banding politik—serta ketegangan militer di Eropa (misalnya antara NATO dan Rusia) telah mendorong investor institusional dan individu untuk mencari perlindungan nilai. Logam mulia, dalam kondisi ketidakpastian tinggi, secara tradisional dianggap sebagai penyimpan nilai yang stabil, sehingga permintaan terhadap emas terus meningkat.
Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa komentar dovish dari beberapa pejabat The Fed mengenai 'kerapuhan' pasar tenaga kerja juga turut memperkuat ekspektasi pemotongan suku bunga di bulan Oktober dan Desember, menjadikan harga emas didukung oleh sentimen pasar yang cenderung optimistis terhadap pelonggaran kebijakan moneter. Peningkatan kepemilikan oleh Exchange Traded Funds (ETF) emas juga memperkuat permintaan global terhadap komoditas ini.
Meskipun demikian, beberapa pejabat The Fed tetap bersikap hati-hati (hawkish), menunjukkan bahwa laju kenaikan emas mungkin akan dibatasi jika sentimen pasar berbalik dan menunjukkan dukungan terbatas terhadap pemangkasan suku bunga. Namun, untuk jangka pendek, sentimen pelemahan Dolar AS dan ekspektasi pemotongan suku bunga tetap menjadi pendorong utama yang menempatkan harga emas di rekor tertinggi sepanjang sejarah.