Keuangan

OJK: Penurunan BI Rate ke Kredit Terhambat, Strategi Bank Jadi Kunci Efek Pelonggaran Moneter

OJK menyatakan transmisi penurunan BI Rate ke bunga kredit terhambat. Strategi bank meningkatkan dana murah (CASA) jadi kunci percepatan efek moneter. (159 karakter)

Jakarta · Sunday, 23 November 2025 21:00 WITA · Dibaca: 22
OJK: Penurunan BI Rate ke Kredit Terhambat, Strategi Bank Jadi Kunci Efek Pelonggaran Moneter

Jakarta, JClarity – Transmisi kebijakan pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) melalui penurunan suku bunga acuan atau BI Rate ke suku bunga kredit perbankan dinilai masih berjalan lambat, meskipun prosesnya telah menunjukkan tren penurunan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa strategi pendanaan dan efisiensi biaya yang dilakukan masing-masing bank menjadi kunci utama untuk mempercepat efek pelonggaran moneter tersebut dan mendorong penyaluran kredit yang lebih optimal.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa secara tahunan, rata-rata suku bunga kredit rupiah telah merespons penurunan BI Rate sepanjang tahun 2025, meskipun dengan jeda waktu tertentu seiring proses transmisi kebijakan moneter. Data OJK per September 2025 menunjukkan bahwa rata-rata suku bunga Kredit Investasi telah turun sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 8,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, Kredit Modal Kerja tercatat turun 41 bps menjadi 8,46 persen. Penurunan ini juga didorong oleh pelemahan suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya deposito rupiah yang turun menjadi 4,96 persen pada September 2025.

Meskipun demikian, OJK mengakui bahwa laju penurunan suku bunga kredit secara keseluruhan masih memiliki ruang untuk berlanjut. Ruang penurunan ini sangat bergantung pada strategi internal masing-masing bank dan struktur biaya pendanaan atau Cost of Fund (CoF) yang dimiliki. Bank didorong untuk mengoptimalkan strategi pendanaan, terutama dengan meningkatkan porsi dana murah (low-cost funding) atau CASA (Current Account Savings Account). Kemampuan bank untuk menghimpun dana murah akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam menetapkan suku bunga kredit, sekaligus menjaga daya saing dan profitabilitas di tengah pelonggaran moneter.

Sebelumnya, Bank Indonesia juga menyoroti lambatnya penurunan suku bunga kredit, padahal BI Rate telah diturunkan hingga total 125 bps sepanjang tahun 2025. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan bahwa selain karena transmisi suku bunga deposito yang lambat, faktor biaya overhead dan marjin premi risiko yang diterapkan perbankan turut memengaruhi lambatnya penurunan suku bunga kredit.

OJK terus mengimbau perbankan agar melakukan penyesuaian suku bunga secara bertahap dan terukur. Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas rasio keuangan bank serta menghindari terjadinya persaingan suku bunga yang tidak sehat di pasar. Selain itu, transparansi kepada konsumen terkait struktur biaya dan risiko produk perbankan juga ditekankan agar nasabah dapat mengambil keputusan finansial yang bijak.

Login IG