Pendidikan

Nilai Matematika TKA SMA 2025 Jeblok, PGRI Desak Evaluasi Total Kurikulum

Nilai rerata TKA Matematika SMA 2025 dilaporkan jeblok, memicu reaksi keras PGRI. Mereka mendesak Kemendikbudristek melakukan evaluasi total kurikulum nasional.

Jakarta · Friday, 28 November 2025 08:00 WITA · Dibaca: 27
Nilai Matematika TKA SMA 2025 Jeblok, PGRI Desak Evaluasi Total Kurikulum

Jakarta, JClarity – Hasil Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, khususnya pada komponen Tes Kompetensi Akademik (TKA) Matematika, menimbulkan kegelisahan mendalam di kalangan pemerhati pendidikan. Data terbaru yang dirilis oleh Badan Pengelola Pengujian Pendidikan (BPPP) menunjukkan rerata nilai TKA Matematika SMA/sederajat tahun ini mencatat angka terendah dalam lima tahun terakhir, memicu reaksi keras dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang mendesak evaluasi total kurikulum nasional.

Angka rerata nasional TKA Matematika untuk peserta didik lulusan SMA yang diumumkan pada Rabu (27/11/2025) menunjukkan penurunan drastis sebesar 12 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini dinilai signifikan dan mencerminkan adanya permasalahan fundamental dalam pengajaran dan pemahaman konsep numerasi dasar di jenjang pendidikan menengah. Hasil ini secara langsung menjadi sorotan tajam karena TKA Matematika merupakan indikator penting dalam mengukur kesiapan akademik calon mahasiswa di perguruan tinggi.

Ketua Umum PGRI, Prof. Dr. Satria Bakti, dalam konferensi pers di Jakarta, menyatakan bahwa hasil jeblok ini adalah cerminan kegagalan sistemik, bukan semata-mata kesalahan siswa atau guru. “Ini bukan hanya penurunan statistik, ini adalah alarm darurat pendidikan. Kurikulum yang diterapkan saat ini, terlepas dari niat baiknya, terbukti gagal membangun fondasi kemampuan dasar numerasi yang kuat,” tegas Satria. “Kami mendesak Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk segera membentuk tim independen guna melakukan evaluasi total dan menyeluruh terhadap isi, metode ajar, dan beban materi kurikulum saat ini.”

PGRI menyoroti bahwa kurikulum yang berlaku, yang lebih menekankan pada eksplorasi dan proyek, tampaknya mengorbankan kedalaman pemahaman konsep-konsep matematika esensial yang diujikan dalam TKA. Organisasi guru tersebut menyuarakan kekhawatiran bahwa siswa tidak memiliki waktu yang memadai untuk menguasai materi inti karena terjebak dalam tuntutan administratif dan kurikuler yang terlalu luas. Mereka menekankan perlunya keseimbangan antara pembelajaran berbasis kompetensi dan penguasaan materi akademik yang terstandar.

Menanggapi desakan ini, Kepala BPPP, Dr. Rima Puspita, menyatakan bahwa pihaknya akan mempelajari lebih lanjut korelasi antara hasil TKA Matematika dengan implementasi kurikulum di lapangan. Sementara itu, Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, melalui siaran persnya, menyampaikan bahwa kementerian menghargai masukan PGRI dan akan melakukan peninjauan internal. “Kami akan melakukan kajian mendalam. Namun, kami meyakini bahwa semangat kurikulum adalah relevansi. Tentu saja, implementasi di lapangan akan terus kami perbaiki demi peningkatan kualitas lulusan,” sebut rilis tersebut.

Situasi ini menempatkan Kemendikbudristek dalam posisi sulit, di mana hasil evaluasi berbasis tes menunjukkan gap yang signifikan dengan tujuan kurikulum yang digagas. Komunitas pendidikan kini menunggu langkah konkret pemerintah untuk mengatasi krisis numerasi ini, agar kegagalan serupa tidak terulang pada TKA tahun-tahun mendatang.

Login IG