Sains

NASA Kirim Bakteri Penyebab Penyakit ke Luar Angkasa, Buat Apa?

NASA mengirim strain bakteri berbahaya, termasuk E. coli dan Salmonella, ke ISS. Tujuannya untuk meneliti dampak mikrogravitasi pada virulensi dan resistansi antibiotik.

Jakarta · Monday, 10 November 2025 01:00 WITA · Dibaca: 31
NASA Kirim Bakteri Penyebab Penyakit ke Luar Angkasa, Buat Apa?

JAKARTA, JClarity – Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) baru-baru ini meluncurkan misi ilmiah yang terkesan kontroversial ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yakni dengan mengirimkan beberapa strain bakteri penyebab penyakit berbahaya. Langkah mengejutkan ini bukan merupakan plot film fiksi ilmiah, melainkan bagian dari eksperimen canggih yang bertujuan memahami bagaimana kondisi mikrogravitasi memengaruhi perilaku genetik patogen.

Pengiriman bakteri ini dilakukan dalam misi Crew-11 NASA-SpaceX yang meluncur pada awal Agustus 2025. Bakteri yang dibawa termasuk strain berbahaya seperti *E. coli*, serta *Salmonella bongori* dan *Salmonella typhimurium*, yang dikenal sebagai penyebab demam tifoid dan penyakit bawaan makanan. Tujuannya adalah untuk meneliti secara molekuler bagaimana bakteri-bakteri ini tumbuh dan bermutasi di lingkungan luar angkasa.

Eksperimen yang dikenal sebagai ARC Space Lab ini merupakan kolaborasi antara Sheba Medical Center dari Israel dan perusahaan teknologi antariksa AS, Space Tango. Para ilmuwan berhipotesis bahwa kondisi tanpa bobot dapat mengubah ekspresi gen bakteri, berpotensi membuatnya lebih ganas (virulen) atau mengubah tingkat resistansinya terhadap antibiotik. Bakteri tersebut akan diinkubasi di ISS, dibekukan pada suhu -80°C, dan kemudian dibawa kembali ke Bumi untuk dianalisis dan dibandingkan dengan strain serupa yang tumbuh di laboratorium normal.

Penelitian ini memiliki manfaat ganda. Pertama, hasilnya akan sangat penting untuk menjaga kesehatan astronot, yang diketahui lebih rentan terhadap infeksi karena stres, paparan radiasi, dan sistem kekebalan tubuh yang melemah saat di orbit. Kedua, data mengenai perubahan genetik bakteri diharapkan dapat memberikan wawasan baru dalam pengembangan strategi pengobatan yang lebih efektif dan untuk memerangi ancaman global 'superbug', yaitu bakteri yang kebal terhadap antibiotik, di Bumi.

Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Ohad Gal-Mor, Kepala Laboratorium Penelitian Penyakit Menular di Sheba Medical Center, eksperimen ini untuk pertama kalinya akan memetakan secara sistematis profil ekspresi genetik dari beberapa bakteri patogen di ruang angkasa, memperluas pemahaman kita tentang infeksi, baik di luar angkasa maupun di Bumi.

Login IG