NASA dan Google Uji 'Dokter AI' untuk Obati Astronaut di Luar Angkasa, Bagaimana Cara Kerjanya?
NASA dan Google sedang menguji 'Dokter AI' Crew Medical Officer Digital Assistant (CMO-DA) untuk astronaut di luar angkasa, mengatasi penundaan komunikasi kritis dalam misi ke Mars. Sistem AI ini menggunakan Vertex AI, NLP, dan data medis luar angkasa untuk memberikan diagnosis dan rekomendasi perawatan secara otonom.
Jakarta, JClarity – Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) bersama Google tengah menguji coba sebuah sistem asisten medis berbasis Kecerdasan Buatan (AI) yang dijuluki 'Dokter AI'. Sistem ini dirancang khusus untuk memastikan kesehatan para astronaut tetap terjaga selama misi eksplorasi luar angkasa jangka panjang, seperti misi Artemis ke Bulan dan ekspedisi masa depan ke Mars.
Proyek inovatif ini, yang secara resmi dikenal sebagai Crew Medical Officer Digital Assistant (CMO-DA), bertujuan untuk mengatasi tantangan kritis dalam perjalanan ruang angkasa: keterlambatan komunikasi. Saat astronaut berada di luar orbit Bumi rendah, seperti dalam perjalanan ke Mars, penundaan waktu komunikasi bolak-balik (round-trip) dapat mencapai hingga 45 menit atau bahkan 223 menit (lebih dari 3 jam) sekali jalan, membuat konsultasi medis real-time dengan dokter di Bumi menjadi mustahil.
CMO-DA berfungsi sebagai Clinical Decision Support System (CDSS) yang memungkinkan kru untuk secara mandiri mendiagnosis dan merekomendasikan penanganan gejala penyakit atau cedera. Sistem ini dikembangkan di atas platform Vertex AI milik Google Cloud dan dilatih secara ekstensif menggunakan literatur medis penerbangan luar angkasa.
Cara Kerja CMO-DA: Diagnosis Otonom di Ruang Hampa
Cara kerja 'Dokter AI' ini memanfaatkan teknologi canggih Natural Language Processing (NLP) dan pembelajaran mesin (Machine Learning) untuk menganalisis kesehatan dan performa kru secara langsung. Astronaut dapat berinteraksi dengan CMO-DA melalui antarmuka multimoda yang menerima input berupa teks, ucapan, dan gambar untuk melaporkan gejala yang dialami.
Berdasarkan data input, literatur medis yang telah dilatih, serta potensi integrasi data dari sensor pesawat dan perangkat medis, AI ini akan menghasilkan analisis real-time. Tujuannya adalah memberikan prediksi dan rekomendasi langkah medis yang terukur, mulai dari pengobatan cedera ringan hingga panduan untuk prosedur darurat, tanpa perlu menunggu persetujuan dari Bumi.
Hasil Uji Coba Awal Menjanjikan
Dalam uji coba awal, CMO-DA telah diuji melalui berbagai skenario medis yang relevan, termasuk penanganan cedera pergelangan kaki, nyeri panggul/pinggang, dan nyeri telinga. Kinerja asisten AI ini dinilai oleh panel dokter, termasuk seorang dokter yang juga merupakan astronaut, menggunakan kerangka kerja Objective Structured Clinical Examination (OSCE).
Hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi diagnostik yang menjanjikan, dengan akurasi diagnosis 88% untuk cedera pergelangan kaki, 80% untuk nyeri telinga, dan 74% untuk nyeri panggul. Ke depan, NASA dan Google berencana untuk menyempurnakan model ini, salah satunya dengan mengintegrasikan data biometrik dan pencitraan ultrasonografi untuk meningkatkan akurasi diagnostik.
Selain manfaatnya untuk eksplorasi antariksa, teknologi asisten medis AI ini juga dinilai memiliki potensi besar untuk aplikasi di Bumi. Sistem ini dapat digunakan untuk memberikan akses ke perawatan medis berkualitas di lingkungan terpencil dan menantang, seperti daerah pedesaan atau zona bencana, di mana ketersediaan tenaga ahli medis terbatas.