Misteri 2 Juta Guratan Hitam di Mars Terpecahkan Setelah 50 Tahun
Misteri 50 tahun jutaan guratan hitam di Mars terpecahkan. Studi terbaru ungkap guratan lereng itu bukan air, melainkan erosi angin dan debu musiman.
JAKARTA, JClarity – Teka-teki yang menyelimuti jutaan guratan gelap, yang dikenal sebagai ‘*slope streaks*’ atau guratan lereng, di permukaan Mars selama lebih dari 50 tahun akhirnya terpecahkan. Sebuah studi terobosan terbaru mengungkapkan bahwa formasi misterius ini sebagian besar dipicu oleh erosi musiman angin dan debu, dan bukan oleh aliran air asin atau dampak meteorit besar seperti yang diyakini sebelumnya.
Guratan-guratan hitam memanjang ini, yang pertama kali terdeteksi oleh wahana Viking NASA pada tahun 1970-an, telah menjadi salah satu misteri paling abadi di Planet Merah, dengan perkiraan jumlahnya mencapai 1,6 hingga 2,1 juta guratan yang menghiasi lereng struktur topografi Mars. Pada awalnya, para ilmuwan menduga bahwa *slope streaks* merupakan bukti longsoran yang disebabkan oleh mencairnya es atau air garam, suatu penemuan yang dapat mengindikasikan adanya lingkungan yang berpotensi layak huni.
Namun, analisis komprehensif terhadap sekitar 2,1 juta guratan lereng—yang difoto oleh Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) NASA antara tahun 2006 dan 2024—menghasilkan kesimpulan yang berbeda. Penelitian yang diterbitkan pada 6 November di jurnal *Nature Communications* ini menunjukkan bahwa hampir semua guratan baru terbentuk melalui proses kering (*dry processes*) yang dipicu oleh dinamika angin dan debu musiman.
Menurut Valentin Bickel, ilmuwan planet dari University of Bern, Swiss, dan penulis utama studi, guratan-guratan ini terbentuk ketika kecepatan angin musiman melampaui ambang batas untuk mobilisasi debu, memicu longsoran debu kering yang meluncur ke bawah lereng. Proses ini serupa dengan pembentukan ‘puting beliung debu’ (*dust devils*) di Mars. Data yang diproses menggunakan algoritma pembelajaran mesin (AI) tersebut memperkuat temuan bahwa angin, bukan air, adalah pematung utama lanskap Mars modern.
Penelitian ini juga mengkategorikan bahwa peristiwa seismik atau tumbukan meteoroid, seperti yang terlihat pada pola seperti 'kode batang' di Apollinaris Mons, merupakan penyumbang yang relatif kecil secara global. Kurang dari 0,1% guratan baru diperkirakan disebabkan oleh dampak tersebut. Dengan tingkat pembentukan sekitar 80.000 guratan baru setiap tahunnya, pemahaman mendalam tentang siklus debu Mars ini menjadi sangat penting, khususnya dalam merencanakan misi berawak dan koloni manusia di masa depan, serta mengelola potensi kontaminasi.