Mikroplastik Ternyata Sering Angkut Bakteri Kebal Obat, Begini Alurnya
Mikroplastik berfungsi sebagai 'kapal induk' bagi bakteri kebal obat (superbug). Begini alurnya: ia membentuk biofilm tebal yang melindungi bakteri & mendorong pertukaran gen resistensi.
JAKARTA, JClarity – Ancaman polusi mikroplastik kini meluas tidak hanya sebagai masalah lingkungan, tetapi juga krisis kesehatan global. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran mikro ini berfungsi sebagai 'kapal induk' yang mengangkut bakteri berbahaya yang resisten terhadap antibiotik, atau yang dikenal sebagai *superbug*, bahkan hingga ke perairan terbuka.
Temuan ini, yang diperkuat oleh studi-studi global terbaru dari institusi seperti Boston University, mengungkap alur kompleks bagaimana mikroplastik mempercepat krisis Resistensi Antimikroba (AMR). Alih-alih hanya menjadi polutan pasif, mikroplastik, yang berukuran kurang dari lima milimeter, ternyata menjadi inkubator aktif bagi evolusi bakteri kebal obat.
Mekanisme Pembentukan 'Superbug' pada Plastik:
Para ilmuwan merinci proses penyebaran ini dalam beberapa tahap, yang secara kolektif disebut sebagai pembentukan 'Plastisphere':
- Platform Kolonisasi: Mikroplastik yang tersebar di lingkungan perairan, seperti sungai yang mengalir dari limbah rumah tangga atau rumah sakit, menyediakan permukaan yang ideal dan stabil bagi bakteri untuk menempel.
- Pembentukan Biofilm: Setelah menempel, bakteri dengan cepat membentuk lapisan pelindung yang padat di permukaan plastik, yang disebut biofilm. Biofilm yang terbentuk pada mikroplastik terbukti jauh lebih kuat dan tebal dibandingkan yang tumbuh pada permukaan alami seperti kaca. Lapisan pelindung ekstra inilah yang membuat antibiotik menjadi kurang efektif dalam membunuh bakteri di dalamnya.
- Hotspot Pertukaran Gen: Di dalam biofilm yang padat, bakteri dapat dengan mudah bertukar materi genetik melalui proses *horizontal gene transfer*. Proses ini memindahkan gen resistensi antibiotik (Antibiotic Resistance Genes/ARGs) dari satu bakteri ke bakteri lain, mempercepat penyebaran sifat kebal obat, bahkan tanpa adanya tekanan antibiotik. Beberapa penelitian menemukan mikroplastik dapat meningkatkan frekuensi pertukaran gen hingga 200 kali.
- Penyerapan Polutan Pendorong Resistensi: Mikroplastik juga memiliki kemampuan unik untuk menyerap dan mengikat polutan lain dari air, termasuk residu antibiotik, logam berat, dan bahan kimia. Zat-zat yang terperangkap ini kemudian terpapar pada bakteri dalam dosis rendah, secara aktif mendorong bakteri untuk beradaptasi dan mengembangkan sifat resisten.
- Kendaraan Jarak Jauh: Karena mikroplastik sulit terurai, mereka dapat mengembara jauh dari sumber polusi, seperti dari saluran pembuangan hingga ke laut terbuka. Dengan demikian, mereka membawa serta biofilm yang penuh dengan patogen dan gen resistensi ke berbagai ekosistem, termasuk yang sebelumnya tergolong bersih.
Para peneliti menyoroti jenis plastik Polistirena (yang umum ditemukan dalam kemasan makanan dan busa) sebagai salah satu jenis mikroplastik yang paling signifikan dalam memfasilitasi perkembangan resistensi bakteri.
Konteks global ini menjadi sangat relevan bagi Indonesia, sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar ke laut. Studi di dalam negeri telah mengonfirmasi kontaminasi mikroplastik di berbagai lokasi, mulai dari air hujan Jakarta, sungai di Bandung dan Malang, hingga ditemukan dalam darah, urine, dan air ketuban manusia di Surabaya. Kombinasi polusi mikroplastik yang masif dengan sistem sanitasi yang belum memadai di beberapa area menciptakan lingkungan ideal bagi amplifikasi dan penyebaran AMR, sebuah ancaman kesehatan publik yang menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merupakan salah satu yang terbesar secara global.
Oleh karena itu, penanganan polusi plastik kini ditekankan bukan hanya sebagai isu lingkungan semata, tetapi juga sebagai prioritas kesehatan publik yang mendesak dalam mitigasi penyebaran infeksi yang resisten terhadap obat-obatan.