Mikroplastik Ternyata Sering Angkut Bakteri Kebal Obat, Begini Alurnya.
Mikroplastik menjadi vektor penyebaran bakteri kebal obat (AMR). Pelajari mekanisme bagaimana partikel plastik membentuk biofilm pelindung yang perkuat resistensi.
Jakarta, JClarity – Ancaman polusi mikroplastik terhadap lingkungan global kini meluas ke sektor kesehatan masyarakat. Sebuah studi terbaru mengindikasikan bahwa partikel plastik berukuran mikro ini bukan sekadar kontaminan fisik, melainkan juga bertindak sebagai kendaraan (vektor) utama yang secara signifikan mempercepat penyebaran bakteri yang resisten terhadap antibiotik, sebuah fenomena yang dikenal sebagai Resistensi Antimikroba (AMR). Temuan ini menambah urgensi dalam mengatasi krisis ganda polusi plastik dan AMR, yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikategorikan sebagai salah satu ancaman kesehatan global terbesar.
Para ilmuwan mengungkap bahwa mikroplastik, potongan plastik berukuran kurang dari lima milimeter, menyediakan permukaan yang ideal bagi bakteri untuk menempel dan berkembang biak. Proses ini menciptakan lapisan pelindung biologis yang disebut **biofilm** atau **Plastisphere**. Biofilm yang terbentuk pada mikroplastik terbukti jauh lebih kuat dan tebal dibandingkan yang terbentuk pada permukaan alami seperti kaca atau kayu, menciptakan isolasi yang efektif yang menghalangi masuknya antibiotik untuk membasmi bakteri.
Alur Penyebaran Resistensi yang Mengkhawatirkan
Mekanisme yang menjadikan mikroplastik sebagai ‘titik panas’ penyebaran AMR adalah kompleks dan berlapis. Pertama, keberadaan biofilm yang padat memfasilitasi pertukaran materi genetik antar-bakteri, termasuk pertukaran **Gen Resistensi Antibiotik (ARG)**. Kondisi ini memungkinkan bakteri untuk "berbagi" sifat kebal obat dengan lebih mudah dan cepat dalam komunitas mikroba yang menempel pada plastik tersebut.
Kedua, mikroplastik memiliki kemampuan untuk menyerap dan membawa berbagai kontaminan dari lingkungan di dalam struktur polimernya, seperti residu antibiotik yang tidak terurai, logam berat, dan polutan lainnya. Zat-zat yang terperangkap ini kemudian menumbuhkan tekanan selektif yang mendorong bakteri yang membawa gen resistensi untuk berkembang biak. Studi menunjukkan bahwa jenis plastik tertentu, seperti polistirena, menunjukkan dampak paling signifikan dalam meningkatkan resistensi ini.
Ketiga, karena mikroplastik sulit terurai dan dapat mengembara jauh—dari air limbah rumah sakit hingga ke perairan laut terbuka—mereka memberikan durasi waktu yang panjang dan jangkauan luas bagi biofilm yang resisten ini untuk tumbuh dan menyebar ke seluruh ekosistem. Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa gen-gen resisten justru meningkat di wilayah hilir dibandingkan di sumber limbah, menggarisbawahi peran mikroplastik sebagai sarana transportasi jarak jauh.
Temuan dari studi seperti yang dipublikasikan dalam jurnal *Applied and Environmental Microbiology* oleh tim dari Boston University dan laporan lain dalam *The Journal of Hazardous Materials* menekankan perlunya tindakan mitigasi segera. Selain pengurangan resep antibiotik yang tidak perlu, langkah paling sederhana dan paling krusial yang direkomendasikan para ahli adalah meningkatkan pengelolaan limbah secara drastis untuk mencegah kontaminan mikroplastik dan air limbah, terutama dari rumah sakit dan industri, memasuki lingkungan sejak awal.