Mikroplastik Masuk Sampai Otak dan Jantung dari Air Minum: Hasil Studi Terbaru Memicu Kekhawatiran Global
Studi terbaru menemukan mikroplastik dari air minum dapat menembus sawar otak dan menumpuk di jantung. Indonesia tercatat sebagai konsumen mikroplastik tertinggi di dunia.
JAKARTA, JClarity – Ancaman mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, terhadap kesehatan manusia kian nyata. Studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa partikel-partikel tak kasat mata ini tidak hanya mencemari lingkungan, namun juga berhasil menembus organ vital manusia, termasuk otak dan jantung, dengan salah satu jalur masuk utama adalah melalui air minum.
Kekhawatiran global ini diperkuat oleh temuan dari penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Universitas Rhodes Island dan Universitas New Mexico, yang menggunakan model hewan (tikus). Hasil uji coba yang mengejutkan menunjukkan bahwa setelah tikus mengonsumsi air minum yang mengandung mikroplastik selama tiga minggu, jejak polutan terakumulasi di setiap organ tubuh mamalia kecil tersebut, bahkan terdeteksi di otak.
Di dalam otak, mikroplastik diduga dapat menembus blood-brain barrier—lapisan pelindung yang biasanya menyaring zat berbahaya—dan memicu peradangan saraf (neuroinflamasi) serta stres oksidatif. Pada tikus, hal ini juga dikaitkan dengan perubahan perilaku yang menyerupai pikun atau penurunan fungsi kognitif. Selain itu, temuan mikroplastik dalam jaringan jantung manusia pasca-mortem semakin menegaskan bahwa polusi plastik telah menjadi krisis kesehatan publik yang mendesak.
Bagi Indonesia, isu ini menjadi sangat relevan. Sebuah studi mencatat bahwa rata-rata orang Indonesia mengonsumsi mikroplastik sekitar 15 gram per bulan, menempatkan masyarakat Indonesia pada posisi tertinggi secara global dalam hal konsumsi mikroplastik. Sumber utama paparan termasuk air minum dalam kemasan (AMDK), di mana pecahan mikroplastik dan nanoplastik dapat terlepas selama proses pembuatan, pemakaian, dan paparan panas.
Lebih lanjut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga menemukan kandungan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta, dengan rata-rata 15 partikel per meter persegi setiap hari di kawasan pesisir. Partikel ini berasal dari serat pakaian, debu kendaraan, dan degradasi sampah plastik yang melayang di atmosfer, kemudian turun bersama hujan dan berpotensi mencemari sumber air.
Para ahli toksikologi dan aktivis lingkungan mendesak pemerintah dan publik untuk segera mengambil tindakan. Meskipun dampak jangka panjang pada manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut, paparan ini telah terbukti menimbulkan risiko peradangan, gangguan hormon, hingga kerusakan jaringan. Perlunya penghentian produksi plastik sekali pakai, pelabelan bahaya kesehatan pada produk plastik, dan penguatan regulasi pengelolaan sampah menjadi langkah krusial untuk menekan laju krisis mikroplastik.