Keuangan

Mesin Moneter Belum Optimal, Purbaya Minta Bank Sentral Dorong Ekonomi Lebih Kencang

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa minta Bank Indonesia (BI) dorong likuiditas lebih kencang karena peran moneter belum optimal, menyoroti penyerapan dana Rp1.000 T.

Jakarta · Sunday, 30 November 2025 12:00 WITA · Dibaca: 23
Mesin Moneter Belum Optimal, Purbaya Minta Bank Sentral Dorong Ekonomi Lebih Kencang

JAKARTA, JClarity – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menyoroti belum optimalnya peran kebijakan moneter dalam mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional. Purbaya mendesak Bank Indonesia (BI) agar lebih aktif mendorong likuiditas, menilai bahwa beban penggerak ekonomi saat ini masih terlalu bertumpu pada instrumen fiskal.

Pernyataan tersebut disampaikan Menkeu Purbaya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Jakarta pada Kamis (28/11/2025). Menurutnya, pemulihan ekonomi belum dapat bergerak secepat yang diharapkan karena 'mesin' moneter belum bekerja maksimal, di tengah upaya pemerintah yang sudah maksimal dari sisi fiskal.

Purbaya secara spesifik menunjuk pada besarnya dana perbankan yang terserap di instrumen Bank Sentral. Ia menyebutkan, BI saat ini menyerap likuiditas perbankan sekitar Rp 1.000 triliun melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan operasi pasar terbuka (open market operation).

“Uang di bank sentral masih banyak. Mereka menyerap uang dari perbankan Rp 1.000 triliun sekarang di SRBI dan open market operation-nya. Kalau bisa dibantu sedikit saja, lebih bagus lagi. Coba diketuk-ketuk sedikit supaya kita bisa jalan bersama,” ujar Purbaya kepada anggota Komisi XI DPR RI.

Menkeu menjelaskan, meski pemerintah telah melakukan berbagai injeksi dari sisi fiskal untuk membalikkan tren negatif peredaran uang di masyarakat, dorongan tersebut belum cukup tanpa sinergi moneter yang optimal. Ia membandingkan bahwa pertumbuhan uang beredar (M0 Adjusted) pada Oktober 2025 tercatat tumbuh 14,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), melambat dari bulan sebelumnya.

Purbaya berpandangan bahwa pada kondisi perekonomian saat ini, pertumbuhan uang primer (M0) idealnya harus didorong mendekati 20% atau lebih untuk mempercepat pemulihan ekonomi tanpa menimbulkan risiko inflasi yang berlebihan. Ia menilai, masih ada ruang yang cukup aman bagi Bank Sentral untuk meningkatkan injeksi likuiditas tanpa membuat perekonomian 'terlalu panas'.

Untuk itu, ia meminta dukungan Komisi XI DPR RI selaku mitra kerja Bank Indonesia untuk mendorong Bank Sentral agar mempercepat peran moneter dalam memacu pertumbuhan. Purbaya menekankan pentingnya koordinasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal dan moneter agar kedua mesin pertumbuhan tersebut dapat bekerja serempak menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Login IG