Pendidikan

Menko Pratikno: AI Bukan untuk Gantikan Peran Guru, Tapi Kunci Akselerasi Pendidikan Indonesia

Menko PMK Pratikno tegaskan AI berperan memperkuat kapasitas guru dan mempercepat kualitas pendidikan Indonesia, dengan kunci utamanya adalah kesiapan SDM.

JAKARTA · Thursday, 04 December 2025 04:00 WITA · Dibaca: 23
Menko Pratikno: AI Bukan untuk Gantikan Peran Guru, Tapi Kunci Akselerasi Pendidikan Indonesia

JAKARTA, JClarity – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan bahwa perkembangan pesat Kecerdasan Artifisial (AI) dalam sektor pendidikan tidak bertujuan untuk menggeser kedudukan pendidik, melainkan menjadi instrumen utama dalam mengakselerasi dan memperkuat kualitas pendidikan di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Pratikno dalam kegiatan Talk Show MAXY Academy bersama Robotic Explorer dan Indonesia Smart Society (IS-SMART) yang diselenggarakan di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, pada Rabu (3/12/2025). Momentum peringatan Hari Guru Nasional 2025 ini dinilai tepat untuk meninjau kembali arah transformasi pendidikan di tengah disrupsi teknologi.

“Kecerdasan artifisial bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi memperkuat kapasitas guru dalam membimbing dan membangun karakter peserta didik,” ujar Menko Pratikno. Ia menekankan bahwa sentralitas peran guru dalam membentuk karakter, moral, dan daya juang siswa tidak dapat digantikan oleh teknologi manapun.

Lebih lanjut, Menko Pratikno menekankan bahwa kunci keberhasilan transformasi pendidikan berbasis AI adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM), bukan semata-mata kemajuan teknologinya. Pemerintah mendorong pemanfaatan AI yang berpusat pada manusia (human-centered AI), di mana teknologi harus bekerja untuk kemanusiaan, keadilan, dan inklusivitas sosial.

Pratikno menjelaskan, pemanfaatan AI harus diiringi dengan sikap bijak dan cerdas. Ia menyoroti pentingnya penguatan literasi digital, kemampuan berpikir kritis (critical thinking), dan etika berteknologi untuk menyaring banjir informasi yang tidak utuh. “Kita harus memanfaatkan perkembangan teknologi, tetapi harus bijak dan cerdas. AI harus dalam kendali manusia, teknologi harus human centered,” tegasnya.

Selain pendidikan, AI juga dilihat sebagai instrumen vital untuk memperkuat berbagai kebijakan dan program kemanusiaan, mulai dari mitigasi bencana, layanan kesehatan jarak jauh (telemedicine), hingga dukungan bagi kelompok rentan. Menko PMK juga mendorong Indonesia tidak hanya menjadi pengguna cerdas AI (smart AI user) tetapi juga pengembang (smart AI developer) dan wirausaha (smart AI preneur), demi menjamin kedaulatan bangsa di era digital.

Login IG