Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Lesu Akibat Salah Urus dari Dalam
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa akui ekonomi RI lesu di awal 2025 akibat salah urus kebijakan domestik, bukan sekadar faktor global, sebelum akhirnya dibalikkan dengan stimulus likuiditas Rp200 T.
JAKARTA, JClarity – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara gamblang mengakui bahwa perlambatan ekonomi nasional yang terjadi sepanjang awal tahun 2025, tepatnya di periode Januari hingga Agustus, bukan semata-mata dipicu oleh ketidakpastian global, melainkan diakibatkan oleh 'salah urus' atau kekeliruan dalam tata kelola kebijakan di dalam negeri.
Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Menkeu Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Kamis, 27 November 2025. "Kalau dilihat dari sini, pelambatan ekonomi kita sepanjang delapan bulan pertama tahun ini bukan karena faktor global semata. Bahkan, mungkin bukan karena faktor global, tapi karena salah urus di dalam negeri yang sudah kita perbaiki," ujar Purbaya.
Perlambatan tersebut tercermin dari sejumlah indikator makroekonomi, di mana pertumbuhan ekonomi Kuartal I 2025 hanya menyentuh angka 4,87 persen, yang merupakan level terendah sejak Kuartal III 2021. Selain itu, kondisi tersebut juga menyebabkan mesin pertumbuhan kredit domestik mengalami kekeringan likuiditas, ditunjukkan dengan jumlah uang beredar yang menempati posisi terendah hingga hampir 0 persen per Agustus 2025.
Menkeu Purbaya juga mengaitkan kondisi ekonomi yang lesu ini dengan gejolak sosial yang sempat memuncak di tengah masyarakat. Ia menilai, melemahnya kinerja ekonomi menciptakan ketidakpuasan publik yang berpotensi memicu aksi massa. "Waktu kemarin ekonomi melambat... Itu gambaran ketidakpuasan masyarakat ke kita semua... sehingga gampang sekali mereka turun ke jalan," jelasnya, menekankan bahaya jika momentum ekonomi tidak segera dibalikkan.
Sebagai langkah korektif dan stimulus, pemerintah mengambil kebijakan cepat dengan menyuntikkan likuiditas ke sistem perbankan. Pemerintah menempatkan dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun pada awal September 2025, disusul penambahan Rp76 triliun pada 10 November 2025. Kebijakan ini terbukti efektif memulihkan optimisme dan menggerakkan sektor riil, di mana jumlah uang beredar melonjak hingga lebih dari 13 persen per Oktober.
Berkat upaya pemulihan tersebut, Purbaya kini menyatakan optimis bahwa ekonomi Indonesia telah berbalik arah. Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) dilaporkan naik tajam dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa. Menkeu memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV dapat mencapai 5,6 hingga 5,7 persen, dan pertumbuhan setahun penuh 2025 diproyeksikan akan mencapai target APBN sebesar 5,2 persen.