Menkeu Purbaya: Ekonomi RI Lesu Akibat Salah Urus dari Dalam
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan ekonomi RI lesu di awal 2025 akibat salah urus anggaran dari dalam, bukan hanya faktor global. Solusi injeksi Rp200 T.
JAKARTA, JClarity – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa secara terus terang mengakui bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yang terjadi pada awal tahun 2025 disebabkan oleh faktor 'salah urus dari dalam' dan bukan semata-mata tekanan kondisi global. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Menkeu Purbaya dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Purbaya menjelaskan bahwa minimnya upaya pemerintah sebelumnya dalam mengurus anggaran keuangan nasional telah menciptakan kondisi likuiditas yang kering, yang pada akhirnya tercermin dalam sejumlah indikator ekonomi makro. Salah satu indikasinya adalah realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2025 yang hanya menyentuh angka 4,87%, menjadi yang terendah sejak kuartal III 2021. Meskipun terjadi perbaikan pada kuartal selanjutnya menjadi 5,12%, tren perlambatan tetap menjadi perhatian serius.
Lebih lanjut, Menkeu Purbaya menyoroti kondisi uang beredar (likuiditas) yang terpuruk. Menurutnya, jumlah uang beredar per Agustus 2025 sempat berada di posisi terendah hingga mendekati 0%, yang menunjukkan bahwa 'mesin' pertumbuhan kredit dalam negeri mengalami kekeringan likuiditas yang parah. Dampak dari kelesuan ekonomi ini juga terlihat dari penerimaan pajak yang lesu, di mana hingga Oktober 2025 realisasinya baru mencapai Rp 1.459 triliun, atau 70,2% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar Rp 2.076,9 triliun.
Menanggapi kondisi tersebut, Menkeu Purbaya, yang baru menjabat sejak September, segera mengambil langkah strategis non-ekspansi fiskal dengan menambah likuiditas domestik. Kebijakan tersebut berupa pemindahan dana negara ke sistem perbankan senilai Rp200 triliun pada awal September 2025. Langkah ini, yang ia sebut sebagai upaya 'meminyaki' ekonomi yang melambat, terbukti efektif.
Pasca-kebijakan tersebut, jumlah peredaran uang melonjak signifikan, yakni lebih dari 8% pada bulan September dan meningkat hingga 13% per Oktober. Kebijakan injeksi likuiditas ini juga diklaim berhasil membalik arah ekonomi dan mendongkrak optimisme publik. Hal ini ditunjukkan dengan melonjaknya Indeks Keyakinan Konsumen terhadap Kinerja Pemerintah (IKKP) hingga mencapai rekor tertinggi di level 118,0 pada November 2025. Dengan adanya momentum pertumbuhan baru ini, Menkeu Purbaya menyatakan optimismenya bahwa kinerja perekonomian domestik hingga akhir tahun akan mencapai target APBN 2025 sebesar 5,2%.