Mengejutkan! Presiden Prabowo Putuskan Bahasa Portugis Jadi Mata Pelajaran Prioritas di Sekolah
Presiden Prabowo Subianto secara mengejutkan menetapkan Bahasa Portugis sebagai mata pelajaran prioritas. Kebijakan ini disebut sebagai langkah diplomasi dan sejarah strategis.
JAKARTA, JClarity – Dalam sebuah langkah yang mengejutkan dan diprediksi akan mengubah peta kurikulum nasional secara signifikan, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penetapan Bahasa Portugis sebagai mata pelajaran prioritas di seluruh jenjang pendidikan formal. Kebijakan baru ini, yang diumumkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) pada Kamis malam, langsung memicu beragam spekulasi dan apresiasi dari berbagai kalangan.
Keputusan tersebut disebut sebagai bagian dari visi strategis jangka panjang pemerintah untuk memperkuat diplomasi dan koneksi sejarah Indonesia, terutama dalam konteks geopolitik dan ekonomi global yang semakin dinamis. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Dr. Muhadjir Effendy (simulasi), dalam konferensi pers khusus di Istana Negara, menjelaskan bahwa Bahasa Portugis dipilih karena relevansinya dengan sejarah maritim Nusantara serta sebagai gerbang komunikasi dengan negara-negara anggota Komunitas Negara-Negar Berbahasa Portugis (CPLP), yang mencakup pasar potensial di Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa.
“Presiden Prabowo melihat Bahasa Portugis bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai investasi masa depan. Koneksi kita dengan Timor Leste, Mozambik, Angola, hingga Brasil memiliki potensi yang belum tergarap maksimal. Dengan prioritas kurikulum ini, kita mempersiapkan generasi muda yang siap bersaing dan bernegosiasi di panggung global,” ujar Menko PMK.
Implementasi kebijakan ini dijadwalkan akan dimulai pada tahun ajaran baru mendatang, diawali dengan program percontohan (pilot project) di ratusan sekolah di tingkat menengah pertama dan atas di pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbudristek dilaporkan telah mengalokasikan anggaran darurat untuk pelatihan massal guru bahasa asing yang akan diretooling untuk menguasai Bahasa Portugis secara cepat.
Meskipun disambut baik oleh beberapa pihak yang pro terhadap diversifikasi bahasa asing selain Inggris dan Mandarin, kebijakan ini juga menuai kritik. Pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Bima Sakti (simulasi), mempertanyakan kesiapan infrastruktur dan tenaga pengajar. “Prioritas baru ini menuntut penyesuaian kurikulum yang masif dan sumber daya yang besar. Pemerintah harus memastikan bahwa penambahan beban kurikuler ini tidak mengorbankan kualitas mata pelajaran esensial lainnya seperti sains dan matematika,” jelas Dr. Bima saat dihubungi JClarity.
Langkah Presiden Prabowo ini menegaskan fokus pemerintah pada pembangunan kapasitas sumber daya manusia yang berorientasi pada kepentingan strategis nasional. Publik kini menanti rincian teknis dari Kemendikbudristek mengenai bagaimana mata pelajaran Bahasa Portugis akan terintegrasi dalam sistem pendidikan Indonesia yang sudah padat.