Sains

Mengapa Temuan Gas Nikel dalam Komet 3I/Atlas Bikin NASA Bingung?

Temuan gas nikel pada komet antarbintang 3I/ATLAS di wilayah dingin Tata Surya membingungkan NASA dan ilmuwan. Anomali kimia ini picu debat panas.

Jakarta · Sunday, 23 November 2025 13:00 WITA · Dibaca: 30
Mengapa Temuan Gas Nikel dalam Komet 3I/Atlas Bikin NASA Bingung?

Jakarta, JClarity – Dunia astronomi kembali dikejutkan oleh anomali kosmik. Komet antarbintang 3I/ATLAS, objek ketiga yang terkonfirmasi melintas di Tata Surya kita dari sistem bintang lain, telah memicu kebingungan signifikan di kalangan ilmuwan, termasuk dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), menyusul penemuan gas nikel di atmosfernya (koma).

Temuan yang terdeteksi sejak akhir Juli 2025 menggunakan spektograf dari Very Large Telescope (VLT) di Chile ini, menunjukkan uap nikel atomik yang bersinar pada jarak yang luar biasa jauh dari Matahari. Pada jarak tersebut, yang hampir empat kali lipat jarak Bumi ke Matahari, suhu seharusnya terlalu dingin bagi logam berat seperti nikel untuk menguap secara normal dari inti es komet.

Para peneliti kebingungan karena nikel biasanya terperangkap dalam mineral keras dan padat yang hanya dapat melepaskan atom bebas melalui proses sublimasi yang membutuhkan panas sangat tinggi. Penemuan nikel bebas saat sinar Matahari masih lemah ini mengisyaratkan adanya jalur pelepasan yang 'lebih lembut' yang dapat beroperasi pada suhu yang sangat rendah.

Anomali kimia 3I/ATLAS tidak berhenti pada nikel. Observasi lebih lanjut oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) milik NASA juga menemukan bahwa koma komet ini didominasi oleh karbon dioksida (CO2) dibandingkan dengan air (H2O), dengan rasio yang luar biasa, yakni sekitar delapan banding satu. Rasio CO2 yang tinggi ini mengindikasikan bahwa komet antarbintang tersebut kemungkinan terbentuk atau menyimpan es di lingkungan tempat CO2 membeku secara efisien, yang sangat berbeda dari kebanyakan komet di Tata Surya kita.

Kombinasi antara kemunculan nikel di wilayah dingin Tata Surya dan komposisi yang kaya CO2 telah memunculkan pertanyaan besar mengenai proses kimia pelepasan atom logam di bawah kondisi suhu ekstrem. Lebih lanjut, beberapa laporan ilmiah menyoroti rasio nikel yang tinggi tanpa disertai dengan jumlah zat besi (besi) yang diharapkan—sebuah tanda kimia yang tidak umum pada komet alami, tetapi sering ditemukan pada paduan nikel hasil industri.

Meskipun mayoritas ilmuwan NASA dan komunitas astronomi berpendapat bahwa 3I/ATLAS adalah fenomena alam—meski sangat aneh—beberapa pihak, termasuk astrofisikawan Harvard, Avi Loeb, berspekulasi bahwa anomali yang ditemukan, termasuk dugaan jejak nikel yang menyerupai paduan industri, mungkin menunjukkan bahwa objek tersebut bisa jadi adalah artefak teknologi dari peradaban asing. Spekulasi ini, bagaimanapun, telah dibantah oleh NASA dan Jaringan Peringatan Asteroid Internasional (IAWN) yang menegaskan bahwa komet ini sepenuhnya konsisten dengan asal-usul komet alami dan tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi.

3I/ATLAS, yang melakukan lintasan terdekatnya dengan Matahari (perihelion) pada 29 Oktober 2025, saat ini sedang bergerak menjauhi Tata Surya. Para astronom terus memantaunya untuk mengumpulkan data berharga tentang materi dari luar sistem bintang kita. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang bagaimana materi pembentuk planet tersebar di seluruh galaksi dan apakah bahan dasarnya serupa atau sangat bervariasi di lingkungan bintang yang berbeda.

Login IG