Mengapa Temuan Gas Nikel dalam Komet 3I/Atlas Bikin NASA Bingung?
Temuan gas nikel pada Komet Antarbintang 3I/Atlas membingungkan NASA karena logam terdeteksi di suhu dingin dan tanpa besi, menantang model komet.
JAKARTA, JClarity – Temuan atom gas nikel (nickel vapor) dalam jumlah signifikan pada Komet Antarbintang 3I/Atlas telah memicu kebingungan dan perdebatan sengit di kalangan ilmuwan, termasuk Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Objek ketiga yang dikonfirmasi berasal dari luar Tata Surya ini menunjukkan komposisi kimia yang sangat anomali, menantang pemahaman konvensional mengenai pembentukan komet dan materi penyusun planet di galaksi.
Kebingungan utama muncul dari fakta bahwa gas nikel terdeteksi saat 3I/Atlas masih berada pada jarak yang luar biasa jauh dari Matahari, sekitar empat kali jarak Bumi-Matahari (3,88 AU), di mana suhu seharusnya terlalu dingin bagi logam berat seperti nikel untuk menguap secara alami. Atom nikel biasanya tersembunyi di dalam mineral yang padat dan keras, yang memerlukan panas sangat tinggi untuk diuapkan, sebuah proses yang mustahil terjadi pada suhu dingin di luar angkasa.
Temuan yang dilakukan oleh tim peneliti menggunakan Very Large Telescope (VLT) di Chile pada Juli 2025 ini semakin misterius karena gas nikel tersebut muncul tanpa didampingi oleh atom besi (iron) dalam jumlah yang sesuai. Secara alami, nikel dan besi hampir selalu terbentuk bersama dalam proses supernova dan bergerak beriringan di ruang angkasa. Rasio nikel yang kaya tanpa besi ini sangat jarang, atau bahkan tidak ada, pada komet alami Tata Surya, namun umum ditemukan pada paduan industri yang diproduksi manusia.
Anomali lain diperkuat oleh pengamatan NASA melalui Teleskop Antariksa James Webb (JWST). Data JWST menunjukkan bahwa koma (selubung gas dan debu) di sekitar inti komet 3I/Atlas memiliki rasio karbon dioksida ($ ext{CO}_2$) terhadap air ($ ext{H}_2 ext{O}$) yang luar biasa, yakni sekitar delapan banding satu. Perbandingan ini dianggap paradoks dan tidak umum dibandingkan dengan sebagian besar komet di Tata Surya kita.
Para ilmuwan berspekulasi bahwa kombinasi antara nikel yang muncul secara dini di wilayah dingin dan didominasi oleh $ ext{CO}_2$ ini mengisyaratkan adanya jalur pelepasan (carrier) nikel spesifik yang mudah terurai meskipun pada suhu sangat rendah. Komposisi yang didominasi $ ext{CO}_2$ menunjukkan bahwa komet ini mungkin terbentuk di lingkungan yang sangat dingin di mana karbon dioksida dapat membeku secara efisien, sebuah petunjuk penting mengenai kimiawi di sistem bintang asalnya.
Meskipun sebagian besar data spektral menunjukkan komet 3I/Atlas terbuat dari bahan-bahan yang serupa dengan komet Tata Surya—seperti deteksi cyanogen (CN) —sejumlah anomali yang 'menentang fisika komet konvensional,' termasuk percepatan non-gravitasi, telah memicu hipotesis yang lebih radikal. Salah satunya, yang diajukan oleh astrofisikawan Harvard, Avi Loeb, adalah spekulasi bahwa objek antarbintang ini mungkin memiliki "asal-usul buatan" atau teknologi asing, meskipun klaim ini masih menjadi perdebatan sengit di komunitas ilmiah.