Sains

Manusia Cerdas Karena Racun Timbal, Peneliti Ungkap Dampak ke Otak

Penelitian UC San Diego terbaru mengungkap hominid purba terpapar timbal 2 juta tahun lalu. Gen NOVA1 unik di manusia modern jadi kunci kecerdasan.

JAKARTA · Saturday, 18 October 2025 06:00 WITA · Dibaca: 56
Manusia Cerdas Karena Racun Timbal, Peneliti Ungkap Dampak ke Otak

JAKARTA, JClarity – Sebuah laporan penelitian terbaru dari University of California San Diego School of Medicine menguak hipotesis yang mengejutkan, menyatakan bahwa paparan racun timbal (Pb) secara historis, yang dikenal sebagai neurotoksin, justru berperan dalam membentuk kecerdasan manusia modern. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 15 Oktober 2025 ini menyoroti bagaimana adaptasi genetik manusia terhadap kontaminasi timbal purba mungkin telah memberikan keunggulan evolusioner, terutama dalam perkembangan bahasa dan kemampuan sosial.

Tim peneliti internasional menganalisis gigi fosil dari 51 hominid yang ditemukan di Afrika, Asia, dan Eropa, termasuk manusia modern, Neanderthal, dan kera besar yang telah punah. Hasilnya menunjukkan jejak timbal terdeteksi pada 73% spesimen, termasuk 71% sampel manusia modern dan manusia purba. Paparan timbal ini terjadi jauh lebih awal dari yang diperkirakan—hingga dua juta tahun sebelum manusia modern memulai penambangan logam—menantang asumsi bahwa kontaminasi timbal besar-besaran baru dimulai pada era Romawi atau Revolusi Industri.

Fokus utama penelitian ini terletak pada perbedaan genetik. Para ilmuwan berpendapat bahwa paparan jangka panjang terhadap timbal telah mendorong seleksi genetik yang menguntungkan Homo sapiens. Manusia modern memiliki varian genetik unik pada gen yang dikenal sebagai neuro-oncological ventral antigen 1 (NOVA1), yang sangat penting dalam pembentukan otak dan perkembangan sinaptik. Varian NOVA1 modern inilah yang diduga memberikan perlindungan terhadap efek buruk timbal, memungkinkan perkembangan bahasa yang kompleks, yang tidak terjadi pada kerabat kita yang punah, seperti Neanderthal.

Dalam eksperimen menggunakan organoid otak—model otak mini—para peneliti memaparkan organoid dengan varian NOVA1 modern dan kuno ke timbal. Mereka menemukan bahwa pada varian kuno, paparan timbal secara signifikan mengganggu ekspresi gen FOXP2—gen yang krusial untuk kemampuan bicara dan bahasa. Sebaliknya, varian NOVA1 modern lebih tahan, yang mengindikasikan bahwa mutasi ini berperan sebagai pelindung, memungkinkan pertumbuhan dan fungsi otak berkembang meski dalam lingkungan yang terkontaminasi.

Alysson Muotri, penulis korespondensi dari UC San Diego School of Medicine, berhipotesis bahwa adaptasi genetik ini mungkin telah memberikan keunggulan kompetitif bagi Homo sapiens atas Neanderthal, bahkan dapat berkontribusi pada kepunahan mereka. Meskipun demikian, penelitian ini tidak menampik fakta bahwa timbal tetap merupakan neurotoksin yang sangat berbahaya. Penemuan ini justru memberikan konteks baru, bahwa evolusi manusia melibatkan perjuangan dan adaptasi berkelanjutan terhadap tantangan lingkungan yang beracun sejak jutaan tahun lalu.

Login IG