Mahasiswa Magister UNEJ Temukan Deteksi Melanoma bagi Perawat Petani Tembakau
Mahasiswa Magister UNEJ, Ahmad Eko Wibowo, menciptakan DETECT, metode deteksi dini melanoma sederhana (ABCDE) untuk perawat petani tembakau. Juara Nasional.
JEMBER, JClarity – Ancaman kanker kulit melanoma yang mengintai komunitas agraris, khususnya petani tembakau yang rentan terpapar sinar matahari langsung, kini mendapatkan solusi inovatif. Ahmad Eko Wibowo, S.Kep., Ns., seorang mahasiswa Magister Keperawatan dari Universitas Jember (UNEJ), berhasil merancang sebuah model deteksi dini yang aplikatif untuk perawat di komunitas agraris atau agronursing.
Karya inovatif ini diberi nama DETECT (Deteksi Dini dan Screening Melanoma dengan Metode ABCDE sebagai Upaya Preventif Perawat Agronursing di Komunitas Petani Tembakau). Melalui risetnya, Ahmad Eko berhasil meraih Juara 1 Lomba Poster Tingkat Nasional pada ajang Nursing Research Competition (NRC) yang digelar oleh Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga (UNAIR) beberapa waktu lalu. Prestasi nasional ini menjadi sorotan karena relevansinya yang tinggi terhadap isu kesehatan pekerja lapangan di Indonesia.
Ahmad Eko menjelaskan bahwa ide penelitian ini muncul dari keprihatinan setelah menyaksikan kasus nyata melanoma yang menimpa seorang pekerja lapangan hingga harus menjalani serangkaian operasi dan radioterapi. “Dari situlah saya tergerak untuk mengangkat tema ini agar peran agronursing lebih diperkuat, khususnya di komunitas petani tembakau yang rentan terpapar langsung sinar matahari,” jelasnya.
Metode DETECT berfokus pada pendekatan sederhana ABCDE—Asymmetry, Border, Color, Diameter, dan Evolution—yang merupakan pedoman klinis deteksi melanoma yang dikembangkan oleh Yayasan Kanker Indonesia. Namun, inovasi utamanya terletak pada strategi edukasi. Ahmad Eko berupaya keras agar perawat dapat menjelaskan istilah medis ini dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam, terutama para petani, melalui media visual sederhana.
Tantangan terbesar yang dihadapinya bukanlah persaingan akademik, melainkan penerimaan dan akses masyarakat untuk mau melakukan deteksi dini. Dengan membumikan istilah medis ke bahasa sehari-hari, DETECT diharapkan mampu meningkatkan partisipasi petani dalam screening dan edukasi kesehatan. Inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai karya akademik, tetapi juga menjadi fondasi untuk memperkuat pencegahan, meningkatkan kesadaran, serta memberdayakan peran perawat sebagai ujung tombak kesehatan di seluruh komunitas agraris di Indonesia.