Sains

**Lapor Prabowo, Kepala BMKG: Ada 3 Siklon yang Mengepung Indonesia**

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani melaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa 3 sistem siklon, termasuk Siklon Tropis Bakung dan 2 bibit siklon, mengepung Indonesia, memicu cuaca ekstrem.

Jakarta · Monday, 15 December 2025 21:00 WITA · Dibaca: 34
**Lapor Prabowo, Kepala BMKG: Ada 3 Siklon yang Mengepung Indonesia**

Jakarta, JClarity – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa wilayah Indonesia saat ini tengah dikepung oleh tiga sistem siklon tropis yang berpotensi memicu peningkatan signifikan cuaca ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologis. Laporan tersebut disampaikan Faisal dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (15/12/2025).

Faisal merinci bahwa tiga sistem yang dipantau ketat oleh BMKG terdiri dari satu siklon tropis aktif dan dua bibit siklon yang baru muncul. Sistem pertama, Siklon Tropis Bakung, yang berkembang dari Bibit 91S, terpantau berada di Samudra Hindia, sebelah barat daya Lampung. Meskipun bergerak menjauhi wilayah Indonesia, kekuatan Siklon Bakung telah meningkat menjadi kategori dua, yang mana posisinya yang terperangkap di antara Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia berpotensi memicu akumulasi awan hujan yang sangat besar.

“Bayangkan curah hujan dalam 1 bulan bahkan 1 setengah bulan, itu turun dalam satu hari, dan itu berlangsung dua sampai tiga hari,” ujar Faisal di hadapan Presiden. Dampak tidak langsung dari Siklon Bakung diprediksi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Bengkulu, Lampung, dan Banten, serta gelombang laut tinggi hingga 2,5 meter di perairan terkait.

Dua ancaman lainnya datang dari bibit siklon, yakni Bibit Siklon Tropis 93S dan Bibit Siklon Tropis 95S. Bibit 93S terpantau di Samudra Hindia selatan Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB), diikuti oleh angin kencang dan gelombang tinggi. Sementara itu, Bibit 95S yang baru muncul di Laut Arafura barat Papua Selatan, berisiko menyebabkan hujan sedang hingga lebat di Papua Selatan dan Maluku Tenggara.

Menanggapi situasi ini, Presiden Prabowo menginstruksikan jajaran menteri untuk memberikan perhatian serius terhadap peringatan dini cuaca dari BMKG. Sebagai langkah mitigasi, Kepala BMKG juga melaporkan bahwa pemerintah telah mengimplementasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di enam provinsi, termasuk Jawa Barat dan Jawa Timur, yang terbukti mampu menurunkan curah hujan antara 20 hingga 50 persen. Rencana perluasan OMC juga akan dilakukan di Lampung, Bali, dan Jawa Tengah.

BMKG menegaskan akan terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Kantor SAR untuk memastikan kesiapsiagaan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, terutama mengingat puncak musim hujan di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan terjadi pada bulan Januari mendatang.

Login IG