Laba Bank Digital Melejit, Kinerja Melesat Kalahkan Bank Konvensional
Laba bank digital Indonesia, seperti Bank Jago (ARTO) dan Allo Bank (BBHI), melesat hingga ratusan persen di Q3 2025, mengalahkan pertumbuhan laba bank konvensional.
JAKARTA, JClarity – Industri perbankan digital Indonesia menunjukkan dominasi kinerja yang mencolok hingga kuartal ketiga (Q3) tahun 2025, mencatatkan lonjakan laba bersih yang melesat jauh melampaui rata-rata pertumbuhan bank konvensional. Kenaikan laba ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang tinggi serta akselerasi bisnis berbasis digital.
Kinerja impresif bank-bank digital tercermin dari laporan keuangan sembilan bulan pertama tahun 2025. Sejumlah emiten bank digital berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih di atas 100% secara tahunan (Year-on-Year/YoY). Contohnya, PT Bank Jago Tbk (ARTO) membukukan kenaikan laba bersih setinggi 131,9% menjadi Rp 199,1 miliar per September 2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang melesat 64,9% menjadi Rp 1,08 triliun.
Tren positif ini juga diikuti oleh bank digital lain. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mencatat kenaikan laba bersih sebesar 25,54% menjadi Rp 379,87 miliar, didukung oleh peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 28,75%. Sementara itu, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) membukukan laba sebesar Rp 41,97 miliar, naik 23,9% YoY, berkat pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 23,06%.
Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia, menjelaskan bahwa pertumbuhan kinerja yang positif ini disokong oleh akselerasi pertumbuhan bisnis, baik dari sisi penyaluran kredit digital, transaksi, maupun berbagai inovasi strategis. Selain itu, beberapa bank digital juga berhasil membalikkan posisi dari rugi menjadi laba. Sebagai contoh, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) berhasil mencetak laba sebesar Rp 276,05 miliar pada Semester I-2025, berbalik dari kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya, menunjukkan potensi profitabilitas model bisnis mereka.
Performa mentereng perbankan digital ini kontras dengan kinerja bank konvensional beraset besar yang cenderung mencatat pertumbuhan laba yang tipis, bahkan ada yang mengalami penurunan. Sebagai perbandingan, pada periode Semester I-2025, laba bersih salah satu bank konvensional terbesar di Indonesia mencatatkan penurunan sekitar 11,5% YoY. Analis menilai, pembeda utama terletak pada kemampuan bank digital untuk memanen pendapatan bunga di tengah kondisi biaya dana (cost of fund) yang masih tinggi, serta manfaat dari pembentukan ekosistem, seperti koneksi ARTO dengan Grup GoTo dan BBHI dengan CT Corp.
Ekosistem digital yang kuat menjadi kunci sukses bank-bank ini. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat transaksi perbankan digital masih tumbuh signifikan, melesat 50,6% secara tahunan pada Desember 2024 dengan nilai transaksi mencapai Rp 87 kuadriliun, menegaskan tingginya adopsi layanan digital oleh masyarakat. Meskipun demikian, tantangan seperti persaingan ketat, pengelolaan risiko, dan kecukupan modal tetap menjadi perhatian, menuntut bank digital untuk terus berinovasi dan menjaga resiliensi.