Sains

La Nina Lemah Terjadi, BMKG Sebut Dampaknya Tak Signifikan pada Curah Hujan Indonesia

BMKG mengonfirmasi La Niña lemah berlangsung hingga awal 2026, namun dampaknya pada curah hujan tak signifikan. Masyarakat tetap diimbau waspada bencana hidrometeorologi.

Jakarta · Sunday, 09 November 2025 14:00 WITA · Dibaca: 31
La Nina Lemah Terjadi, BMKG Sebut Dampaknya Tak Signifikan pada Curah Hujan Indonesia

JAKARTA, JClarity – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena iklim La Niña kategori lemah sedang berlangsung di Indonesia. Meskipun demikian, BMKG menegaskan bahwa dampak dari fenomena ini terhadap peningkatan curah hujan di Tanah Air tidak akan signifikan saat puncak musim hujan tiba.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa La Niña lemah diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2026. "La Nina lemah akan bertahan hingga awal tahun 2026, namun pada puncak musim hujan dampaknya terhadap penambahan curah hujan tidak terlalu signifikan," kata Faisal, dikutip dari laman resmi BMKG. Ia menambahkan bahwa secara umum, akumulasi curah hujan untuk periode musim hujan 2025/2026 diprakirakan berada pada kategori normal.

Meski dampak La Niña dinilai tidak signifikan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Peningkatan intensitas curah hujan yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor tetap perlu diwaspadai, terutama karena adanya kombinasi faktor regional lain. Dinamika atmosfer saat ini terpantau cukup aktif, diperkuat oleh anomali suhu muka laut yang positif di perairan Indonesia (perairan yang lebih hangat dari normal) serta pengaruh gelombang atmosfer lainnya, yang secara kolektif mendukung pembentukan awan konvektif dan hujan lebat.

Saat ini, Indonesia telah memasuki periode transisi menuju puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung antara November 2025 hingga Februari 2026. BMKG memproyeksikan curah hujan dengan kategori tinggi hingga sangat tinggi berpotensi terjadi di wilayah Indonesia bagian selatan, meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, hingga Papua bagian selatan. Selain itu, beberapa wilayah seperti Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian utara, Sulawesi bagian utara, dan Maluku Utara diprediksi masih mengalami curah hujan di atas normal pada periode November-Desember 2025.

Mengingat potensi cuaca ekstrem yang meningkat akibat berbagai dinamika atmosfer tersebut, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen, baik pemerintah daerah maupun masyarakat. Koordinasi lintas sektor dan mitigasi bencana menjadi kunci dalam menghadapi peningkatan risiko cuaca ekstrem, termasuk potensi Siklon Tropis yang juga diwaspadai muncul di wilayah selatan Indonesia.

Login IG