Kurikulum Berbasis Industri Langkah Nyata Menuju Lulusan Siap Kerja
Implementasi kurikulum berbasis industri adalah solusi strategis untuk mengatasi kesenjangan kompetensi. Langkah ini dipercaya mampu menghasilkan lulusan siap kerja.
JAKARTA, JClarity – Fokus pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada penguatan pendidikan vokasi dan implementasi kurikulum berbasis industri telah memasuki babak krusial. Kebijakan ini dinilai sebagai respons strategis terhadap tantangan pasar tenaga kerja global yang menuntut kompetensi praktis dan relevan, serta menjadi langkah nyata mengurangi kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja (link and match).
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari upaya revitalisasi pendidikan vokasi dan program Merdeka Belajar yang diarahkan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Kurikulum berbasis industri bukan sekadar penambahan jam praktik; ini adalah integrasi penuh, di mana kurikulum kampus atau sekolah kejuruan disusun bersama-sama dengan perwakilan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Sejumlah perguruan tinggi dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk menyertakan para profesional industri dalam proses perancangan kurikulum. Langkah ini memastikan materi ajar selalu mutakhir dan sesuai dengan standar kompetensi terkini, terutama yang berkaitan dengan adopsi teknologi Industri 4.0 dan kebutuhan spesifik sektor manufaktur, digital, dan pariwisata.
Aspek penting lainnya adalah penguatan porsi praktik kerja industri atau magang bersertifikat. Magang tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan bagian tak terpisahkan dari Satuan Kredit Semester (SKS) yang harus dipenuhi oleh mahasiswa atau siswa. Durasi magang diperpanjang dan pengawasannya ditingkatkan, dengan harapan lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga sertifikat kompetensi yang diakui oleh industri.
Kepala Pusat Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, [Nama Pejabat Fungsional/Direktur Simulasikan], dalam kesempatan terpisah menekankan bahwa kolaborasi ini adalah kunci. "Kami targetkan setidaknya 70 persen kurikulum di jenjang vokasi harus memiliki kontribusi langsung dari DUDI. Ini adalah jaminan bahwa lulusan kita siap kerja, bukan sekadar siap didik ulang. Investasi waktu dan anggaran untuk pendidikan harus menghasilkan output yang relevan dengan kebutuhan pasar," ujarnya.
Meskipun demikian, tantangan implementasi masih membayangi, terutama dalam pemerataan kualitas fasilitas praktik di seluruh wilayah dan peningkatan kompetensi dosen serta guru vokasi yang harus terus mengikuti perkembangan teknologi industri yang sangat cepat. Namun, optimisme tinggi hadir dari pelaku industri, yang melihat inisiatif ini sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja terampil di Indonesia. Kurikulum berbasis industri adalah visi konkret pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang ditopang oleh SDM yang kompeten dan berdaya saing global.