Keuangan

Kredit Macet Fintech Lending Kalangan Muda Naik, Rendahnya Literasi Jadi Penyebab

Peningkatan signifikan kredit macet (TKB90) pada pinjaman online di kalangan anak muda menjadi sorotan OJK. Rendahnya literasi keuangan dinilai sebagai pemicu utama.

Jakarta · Thursday, 13 November 2025 14:00 WITA · Dibaca: 46
Kredit Macet Fintech Lending Kalangan Muda Naik, Rendahnya Literasi Jadi Penyebab

JAKARTA, JClarity – Tingkat kredit macet atau yang dikenal sebagai TKB90 (Tingkat Keberhasilan Bayar dalam 90 hari) pada layanan fintech peer-to-peer (P2P) lending menunjukkan tren kenaikan signifikan, terutama di kalangan peminjam dari generasi muda. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyoroti rendahnya literasi keuangan di segmen usia 18 hingga 35 tahun sebagai pemicu utama lonjakan angka gagal bayar ini.

Data kuartal terbaru menunjukkan bahwa angka TKB90 kolektif di segmen peminjam muda telah melampaui batas toleransi industri yang ditetapkan OJK. Sementara rata-rata TKB90 industri berada di angka aman sekitar 2,8%, kredit macet pada kelompok usia produktif ini dilaporkan menyentuh angka 3,9%, bahkan di beberapa platform terindikasi lebih tinggi. Angka ini, meskipun masih di bawah ambang batas 5% yang mengkhawatirkan, menunjukkan laju pertumbuhan yang cepat dibandingkan periode sebelumnya.

Pengamat Ekonomi Digital dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Kusuma, M.B.A., menyatakan bahwa kemudahan akses pinjaman daring, yang kerap dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumtif dan gaya hidup, menjadi bumerang bagi generasi muda. "Mereka cenderung impulsif, menganggap enteng pinjaman kecil, dan sayangnya, tidak memiliki perencanaan arus kas yang memadai. Konsep 'pay-later' atau beli sekarang bayar nanti, tanpa pemahaman risiko, seringkali berujung pada praktik gali lubang tutup lubang," jelas Dr. Rina.

AFPI mengamini analisis tersebut, sembari menekankan bahwa mayoritas pinjaman yang bermasalah pada segmen usia muda tidak digunakan untuk modal produktif, melainkan untuk pembelian gawai, liburan, atau kebutuhan gaya hidup lainnya yang tidak menghasilkan pendapatan. Hal ini berbeda dengan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang cenderung memiliki tingkat pengembalian pinjaman yang lebih sehat karena digunakan untuk ekspansi bisnis.

Menyikapi hal ini, OJK telah meminta platform fintech lending untuk memperkuat asesmen kelayakan kredit, terutama pada peminjam baru dari kalangan usia muda, dan mewajibkan edukasi finansial yang lebih intensif. Program edukasi harus mencakup simulasi risiko dan dampak jangka panjang dari gagal bayar, termasuk potensi masuk daftar hitam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Industri dan regulator didorong untuk berkolaborasi dalam menciptakan kurikulum literasi keuangan digital yang relevan dan menarik bagi target audiens ini.

Tingginya kredit macet di kalangan generasi muda menjadi isu serius karena berpotensi merusak kesehatan keuangan individu di masa depan dan mengganggu stabilitas ekosistem fintech lending nasional. Oleh karena itu, edukasi keuangan yang terstruktur dan berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan pemanfaatan teknologi keuangan yang bertanggung jawab.

Login IG