Keuangan

Kompetisi Menurunkan Bunga Kredit Dimulai, Ini Sektor yang Paling Diuntungkan

Kompetisi penurunan bunga kredit perbankan telah dimulai. Sektor Kredit Investasi dan Korporasi menjadi yang paling diuntungkan, diikuti Properti dan UMKM.

JAKARTA · Tuesday, 02 December 2025 00:00 WITA · Dibaca: 24
Kompetisi Menurunkan Bunga Kredit Dimulai, Ini Sektor yang Paling Diuntungkan

JAKARTA, JClarity – Sinyal kompetisi penurunan suku bunga kredit perbankan di Indonesia semakin menguat, menyusul kebijakan pelonggaran moneter yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia (BI). Meskipun proses transmisi masih berjalan bertahap, data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa tren penurunan bunga telah dimulai, memberikan angin segar bagi dunia usaha.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa penyesuaian suku bunga kredit telah terlihat sebagai respons terhadap pemangkasan suku bunga acuan BI Rate. Secara tahunan, rata-rata suku bunga kredit telah mengalami penurunan, dengan sektor produktif menjadi yang paling diuntungkan. Kredit Investasi tercatat mengalami penurunan paling signifikan, yakni sebesar 50 basis poin (bps) hingga September 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Kredit Modal Kerja juga turun sebesar 41 bps pada periode yang sama.

Penurunan suku bunga yang paling terasa ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor yang berorientasi pada proyek jangka panjang dan pembangunan kapasitas, seperti **Infrastruktur, Konstruksi, dan Industri Manufaktur**, berada di garis depan penerima manfaat. Data BI juga mencatat bahwa secara rinci, suku bunga **Kredit Korporasi** mengalami penurunan signifikan, yakni 27 bps, menjadikannya segmen yang paling agresif merespons biaya dana yang lebih rendah.

Selain sektor korporasi besar, dampak positif juga meluas ke segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (**UMKM**) dan sektor terkait konsumsi. Bagi UMKM, penurunan bunga kredit, terutama Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang terus diprioritaskan, sangat penting untuk meningkatkan akses pembiayaan dan mendorong ekspansi usaha dengan biaya modal yang lebih terjangkau. Sementara itu, sektor **Properti/Real Estate** dan **Barang Konsumsi** (Consumer Goods) juga diperkirakan akan menikmati keuntungan. Suku bunga yang lebih rendah akan mendorong masyarakat untuk lebih percaya diri mengambil Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan meningkatkan daya beli secara keseluruhan, yang berujung pada pertumbuhan permintaan properti dan ritel.

Namun, akselerasi penurunan suku bunga kredit antarbank tidak seragam. Perlambatan transmisi dipengaruhi oleh strategi dan struktur biaya dana (Cost of Fund/CoF) masing-masing bank, terutama terkait dengan penawaran special rate kepada deposan besar. Dalam menyikapi hal ini, OJK terus mendorong perbankan untuk mengoptimalkan strategi pendanaan, khususnya dengan meningkatkan porsi Dana Pihak Ketiga (DPK) berupa dana murah atau CASA (Current Account Saving Account), guna menciptakan ruang yang lebih besar untuk penurunan suku bunga kredit tanpa mengorbankan kesehatan rasio keuangan.

Dengan adanya ekspektasi penurunan suku bunga global pada kuartal IV 2025 dan terus menguatnya likuiditas domestik, ruang penurunan suku bunga kredit diperkirakan masih akan berlanjut. Kondisi ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan kredit perbankan secara lebih luas, terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Login IG