Keuangan

Kinerja Bank Digital 'Moncer' Kuartal III 2025, Apa Pendorong Pertumbuhan Labanya?

Kinerja bank digital 'moncer' di Kuartal III 2025 didorong lonjakan NII dari penyaluran kredit berbasis ekosistem dan efisiensi dana murah (CASA).

JAKARTA · Saturday, 01 November 2025 12:00 WITA · Dibaca: 46
Kinerja Bank Digital 'Moncer' Kuartal III 2025, Apa Pendorong Pertumbuhan Labanya?

JAKARTA, JClarity – Industri perbankan digital nasional berhasil melanjutkan tren positif dan mencatatkan kinerja keuangan yang 'moncer' hingga Kuartal III (Q3) tahun 2025. Performa laba bank-bank digital tercatat melesat hingga mencapai pertumbuhan dua digit, bahkan tiga digit, melampaui rata-rata pertumbuhan bank konvensional. Data menunjukkan bahwa mayoritas emiten bank digital telah berhasil mencetak laba bersih yang signifikan, menandai fase transisi dari fase bakar uang (burn rate) ke fase profitabilitas berkelanjutan.

Laporan keuangan yang dirilis hingga September 2025 menyoroti beberapa pemain utama. PT Bank Jago Tbk (ARTO), misalnya, mencatatkan peningkatan laba bersih setelah pajak sebesar 131,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp199,1 miliar. Sementara itu, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) juga mencatatkan kenaikan laba bersih 25,54% menjadi Rp379,87 miliar. Kinerja cemerlang serupa turut dibukukan oleh PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) dengan pertumbuhan laba 23,9% YoY, dan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) yang labanya tumbuh 14,70%.

Faktor pendorong utama di balik pertumbuhan laba yang impresif ini adalah lonjakan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII). Pada kasus Bank Jago, NII melesat 64,9% menjadi Rp1,08 triliun. Peningkatan NII ini merupakan hasil langsung dari akselerasi penyaluran kredit digital yang ekspansif namun tetap dilakukan secara pruden. Kolaborasi Ekosistem dan Efisiensi Dana Murah

Pertumbuhan kredit bank digital sebagian besar ditopang oleh strategi kolaborasi dengan ekosistem digital dan platform mitra (Partnership and Ecosystem Lending). Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung, menyatakan bahwa hasil positif ini merupakan bukti nyata bahwa inovasi dan kolaborasi dengan berbagai ekosistem keuangan digital mampu memberikan nilai tambah bagi nasabah. Melalui model ini, bank digital mampu mencapai penyaluran kredit yang masif (misalnya Bank Jago mencapai Rp23,5 triliun per September 2025, tumbuh 36% YoY) dengan tetap menjaga kualitas aset. Hal ini tecermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross Bank Jago yang berada di level rendah 0,4%, jauh di bawah rata-rata NPL perbankan nasional.

Selain itu, efisiensi pendanaan juga menjadi kunci. Sejumlah bank digital berhasil meningkatkan porsi Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berasal dari dana murah (CASA), seiring dengan bertambahnya jumlah nasabah. Peningkatan basis nasabah (Bank Jago mencapai 18,6 juta nasabah per Q3 2025) meningkatkan likuiditas dan mengurangi biaya dana (Cost of Fund), yang pada akhirnya mendongkrak marjin bunga bersih (NIM) perseroan.

Antisipasi Tantangan Likuiditas dan NPL

Meskipun kinerja laba menunjukkan tren ‘moncer’, industri perbankan digital tetap dihadapkan pada sejumlah tantangan. Ketidakpastian makroekonomi global dan domestik, serta revisi proyeksi pertumbuhan kredit perbankan nasional oleh Bank Indonesia (BI) menjadi 8–11% (turun dari perkiraan awal) memerlukan kalibrasi strategi yang lebih selektif. Tantangan lain yang terus dicermati adalah potensi pengetatan likuiditas akibat pelemahan daya beli masyarakat dan risiko tingginya NPL pada segmen tertentu, meskipun kebijakan penurunan suku bunga acuan BI diharapkan dapat menekan kenaikan NPL.

Analis menilai, prospek bank digital tetap positif bagi emiten yang mampu menjaga disiplin kredit, efisiensi biaya, dan kualitas aset. Bank digital yang sukses menyeimbangkan pertumbuhan dengan manajemen risiko yang solid diprediksi akan semakin resilient dan memimpin transformasi sektor keuangan di masa depan.

Login IG