Kian Sulit Menahan Modal Keluar: Nilai Tukar Rupiah Rontok di Tahun Pertama Prabowo
Rupiah tertekan hingga menyentuh level kritis di tahun pertama Presiden Prabowo. Artikel membahas penyebab rontoknya Rupiah dari sisi modal keluar dan kebijakan fiskal.
JAKARTA, JClarity – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan hebat, mendekati level psikologis kritis Rp17.000 per Dolar AS, sebuah level yang terakhir terlihat pada krisis besar. Pelemahan signifikan ini terjadi di tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menandakan kian sulitnya otoritas moneter menahan derasnya arus modal keluar atau capital outflow dari pasar keuangan domestik.
Tekanan terhadap Rupiah merupakan kombinasi kompleks antara sentimen global dan kekhawatiran domestik. Di ranah global, kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed) AS dengan narasi 'Higher for Longer' terus menjadi faktor penarik ('pull factor') utama. Kesenjangan imbal hasil yang semakin menyempit antara obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia memaksa investor asing untuk 'melarikan diri' ke aset AS yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil yang kompetitif tanpa risiko pasar negara berkembang.
Di sisi domestik, pasar merespons dengan skeptis terhadap proyeksi ekspansi fiskal yang ambisius dari pemerintahan baru. Program-program unggulan yang memerlukan pembiayaan besar, seperti program makan siang dan susu gratis, memicu kekhawatiran di kalangan investor mengenai keberlanjutan fiskal dan potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kekhawatiran ini diperkuat oleh wacana penambahan utang atau penggunaan dana cadangan yang masif, yang secara kolektif merusak kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi jangka menengah.
Bank Indonesia (BI) telah berupaya keras mengintervensi pasar, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta melakukan penyesuaian suku bunga acuan di luar siklus normal (off-cycle hike). Namun, intervensi ini tampak kewalahan menghadapi kekuatan ganda dari pengetatan moneter global dan sentimen negatif di pasar SBN, di mana investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) yang substansial. Upaya BI, meski vital, hanya berfungsi sebagai penahan sementara (buffer) alih-alih solusi fundamental.
Ekonom senior menilai bahwa untuk menstabilkan Rupiah, pemerintah harus mengirimkan sinyal yang kuat dan meyakinkan mengenai komitmen disiplin fiskal. Diperlukan peta jalan (roadmap) yang transparan dan realistis mengenai bagaimana program-program ekspansif akan dibiayai tanpa mengorbankan rasio utang dan defisit. Kegagalan dalam meyakinkan pasar mengenai keberlanjutan fiskal berisiko memperpanjang periode pelemahan Rupiah, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya impor, memicu inflasi, dan menaikkan beban pembayaran utang luar negeri dalam mata uang asing.