Sains

Kenapa Tidur Lama di Akhir Pekan Dapat Merusak Struktur Otak

Studi terbaru menunjukkan kebiasaan tidur lama di akhir pekan atau "social jetlag" merusak konektivitas otak, mengganggu fokus dan emosi.

Jakarta · Sunday, 14 December 2025 22:00 WITA · Dibaca: 37
Kenapa Tidur Lama di Akhir Pekan Dapat Merusak Struktur Otak

Jakarta, JClarity – Kebiasaan ‘balas dendam’ tidur dengan durasi panjang saat akhir pekan, sebuah fenomena yang dikenal sebagai *social jetlag*, ternyata membawa konsekuensi serius yang melampaui sekadar rasa kantuk di hari Senin. Studi terbaru mengungkapkan korelasi negatif antara pergeseran pola tidur ini dengan kerusakan pada konektivitas dan efisiensi struktur otak, terutama pada remaja.

Istilah *social jetlag* merujuk pada ketidakselarasan antara jam biologis internal tubuh (ritme sirkadian) dan jadwal tidur-bangun yang dipaksakan oleh tuntutan sosial, seperti jadwal kerja atau sekolah. Perubahan pola tidur yang drastis, seperti tidur larut malam saat hari kerja dan bangun sangat siang di akhir pekan, mengacaukan ritme sirkadian 24 jam alami tubuh. Ritme ini berfungsi mengatur bukan hanya siklus tidur dan bangun, tetapi juga suasana hati, fungsi kognitif, dan metabolisme.

Tim peneliti dari Boston Children's Hospital dan Johns Hopkins All Children's Hospital yang baru-baru ini membedah hasil pemindaian otak dari ribuan partisipan, menemukan bahwa *social jetlag* yang parah berhubungan dengan gangguan konektivitas di bagian-bagian penting otak. Secara spesifik, terjadi kelemahan pada jaringan atensi dorsal (*dorsal attention network*) yang bertanggung jawab untuk fokus, serta pada sistem pemrosesan emosi. Akibatnya, otak menjadi kurang efisien dalam memproses informasi, meningkatkan risiko kesulitan berkonsentrasi, dan kerentanan terhadap ketidakstabilan emosi.

Selain ketidakselarasan ritme, durasi tidur yang berlebihan (sembilan jam atau lebih per malam) secara umum juga dikaitkan dengan dampak negatif pada fungsi kognitif. Beberapa penelitian neuroimaging menunjukkan bahwa tidur terlalu lama atau terlalu sebentar berhubungan dengan indikator kesehatan otak yang buruk, seperti cedera otak 'senyap' yang dapat memprediksi risiko stroke dan demensia di kemudian hari. Efek buruk ini semakin kuat terlihat pada individu yang juga menunjukkan gejala depresi.

Para ahli tidur dan neurolog merekomendasikan agar orang dewasa menjaga durasi tidur yang konsisten, yaitu rata-rata 7 hingga 9 jam setiap malam, untuk menjaga kesehatan otak yang optimal. Meskipun tidur lebih lama di akhir pekan dapat meredakan rasa lelah jangka pendek, hal itu tidak cukup untuk memperbaiki dampak sistemik dari kurang tidur kronis atau mengoreksi gangguan ritme sirkadian yang terus-menerus. Oleh karena itu, konsistensi jadwal tidur harian dipandang sebagai fondasi yang lebih penting daripada sekadar 'melunasi utang tidur' di akhir pekan.

Login IG