Sains

Kecerdasan Otak Kanan dan Kiri Ternyata Mitos, Cek Faktanya!

Penelitian neurosains terbaru membuktikan bahwa konsep dominasi kecerdasan otak kanan (kreatif) dan otak kiri (logis) hanyalah mitos. Otak bekerja simultan.

Jakarta · Saturday, 22 November 2025 19:00 WITA · Dibaca: 31
Kecerdasan Otak Kanan dan Kiri Ternyata Mitos, Cek Faktanya!

JAKARTA, JClarity – Selama bertahun-tahun, keyakinan bahwa kepribadian dan kecerdasan seseorang ditentukan oleh dominasi salah satu belahan otak—otak kiri untuk logika dan analitis, serta otak kanan untuk kreativitas dan seni—telah mengakar kuat di masyarakat. Namun, sains modern dengan tegas membantah gagasan ini. Penelitian terbaru dari bidang neurosains menegaskan bahwa konsep “orang berotak kanan” atau “orang berotak kiri” hanyalah mitos belaka.

Gagasan populer ini, yang sering digunakan untuk mengkotak-kotakkan gaya belajar dan karier seseorang, sebenarnya berakar dari penyederhanaan berlebihan atas temuan ilmiah di masa lalu. Spesialisasi fungsi (lateralisasi) belahan otak memang ada; misalnya, area Broca yang terkait dengan bahasa sering ditemukan di belahan kiri. Namun, temuan ini disalahartikan dalam budaya populer, sehingga memunculkan stereotip bahwa dominasi salah satu sisi menentukan tipe kepribadian seseorang.

Faktanya, otak manusia bekerja sebagai sebuah sistem yang terintegrasi dan simultan. Belahan kiri dan kanan saling bekerja sama dalam semua aktivitas, bahkan untuk tugas yang dianggap sebagai fungsi tunggal satu sisi. Sebagai contoh, pemikiran logis yang identik dengan otak kiri, seperti dalam matematika, tetap memerlukan elemen kreativitas yang kerap dikaitkan dengan otak kanan. Demikian pula sebaliknya, karya seni yang hebat tidak hanya lahir dari emosi, tetapi juga dari proses pemikiran yang terstruktur dan teliti.

Penelitian kunci, termasuk studi yang dipublikasikan oleh para ilmuwan dari University of Utah pada tahun 2013, membongkar mitos ini dengan menganalisis lebih dari seribu pemindaian otak. Hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada bukti adanya dominasi permanen salah satu sisi otak—kiri atau kanan—yang lebih aktif atau lebih dominan dalam jaringan saraf dan konektivitas. Para peneliti menyimpulkan bahwa anggapan seseorang lebih 'berotak kiri' atau 'berotak kanan' hanyalah kiasan, bukan deskripsi anatomi atau fungsional yang akurat dari otak.

Oleh karena itu, para ahli saraf menekankan pentingnya untuk tidak mengotak-ngotakkan potensi atau gaya belajar seseorang berdasarkan mitos dominasi otak. Alih-alih mencari tahu mana sisi otak yang lebih kuat, pendekatan yang lebih tepat adalah memaksimalkan fungsi kedua belahan otak secara sinergis, karena keduanya berperan sama penting dan saling melengkapi dalam mengendalikan seluruh fungsi tubuh dan proses kognitif manusia.

Login IG