Kecerdasan Otak Kanan dan Kiri Ternyata Mitos, Cek Faktanya!
Mitos kecerdasan otak kanan dan kiri yang membagi orang menjadi analitis atau kreatif tidak didukung sains. Penelitian MRI membuktikan kedua belahan otak bekerja sinergis.
JAKARTA, JClarity – Konsep populer yang membagi kecerdasan manusia menjadi dua kubu, yakni 'otak kiri' yang logis dan analitis serta 'otak kanan' yang kreatif dan intuitif, telah lama beredar luas dalam masyarakat, bahkan menjadi dasar industri pengembangan diri. Namun, sains modern, khususnya ilmu neurosains, secara tegas membantah gagasan tersebut dan menggolongkannya sebagai sebuah mitos yang menyesatkan.
Pandangan bahwa seseorang dapat didominasi oleh salah satu belahan otak ternyata tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat. Asal-usul mitos ini berakar pada temuan peraih Nobel Roger W. Sperry di tahun 1960-an, yang menemukan bahwa belahan otak kiri dan kanan memang memiliki spesialisasi fungsi (lateralisasi), terutama pada pasien 'split-brain' yang korpus kalosumnya (penghubung dua belahan otak) diputus. Otak kiri memang cenderung mengurus bahasa dan logika, sementara otak kanan terlibat dalam hal spasial dan visual.
Kendati demikian, temuan spesialisasi fungsi tersebut kemudian disederhanakan secara berlebihan oleh budaya populer, sehingga memunculkan stereotip bahwa kepribadian dan bakat seseorang—seperti 'pintar matematika' atau 'pintar seni'—ditentukan oleh dominasi permanen satu sisi otak.
Faktanya, sebuah studi masif yang dilakukan oleh para peneliti di University of Utah pada tahun 2013, dengan menganalisis pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) dari lebih dari 1.000 otak, tidak menemukan pola yang menunjukkan adanya kecenderungan atau dominasi permanen salah satu sisi otak pada individu. Para peneliti menyimpulkan bahwa setiap orang menggunakan kedua belahan otaknya secara seimbang, meskipun pola aktivitas otak bervariasi tergantung pada tugas yang dikerjakan.
Neurosains modern menegaskan, hampir semua aktivitas kognitif, baik itu menghitung, berbicara, atau bahkan melukis, membutuhkan kerja sama yang sinergis antara kedua belahan otak. Sebagai contoh, seorang ilmuwan membutuhkan logika (otak kiri) untuk menganalisis data dan kreativitas (otak kanan) untuk memvisualisasikan pola. Begitu pula, seorang seniman menggunakan imajinasi (otak kanan) dan kontrol motorik serta ketepatan (otak kiri) saat berkarya.
Neurolog sekaligus ahli bedah saraf Indonesia, Dr. Ryu Hasan, pernah menegaskan bahwa pembagian fungsi otak kanan dan kiri secara mutlak adalah mitos. “Tidak benar kalau seniman hanya memakai otak kanan, dan ilmuwan hanya otak kiri. Otak kita bekerja sebagai satu kesatuan yang saling terhubung,” ujarnya. Oleh karena itu, potensi kecerdasan manusia tidak seharusnya dibatasi dalam kategori 'otak kiri' atau 'otak kanan', melainkan harus dikembangkan melalui pembelajaran yang mengoptimalkan kolaborasi antar kedua belahan otak.