JWST Temukan 'Super-Bumi' dengan Tanda-Tanda Kehidupan, Jarak 42 Tahun Cahaya
JWST deteksi biosignature Dimetil Sulfida (DMS) di atmosfer 'Super-Bumi' K2-18b yang berjarak 124 tahun cahaya, meningkatkan harapan adanya kehidupan ekstrasurya.
Jakarta, JClarity – Teleskop Antariksa James Webb (JWST) kembali mencetak sejarah dalam eksplorasi antariksa setelah tim astronom internasional mengumumkan temuan 'sidik jari' kimiawi yang sangat menjanjikan sebagai tanda-tanda kehidupan di atmosfer sebuah exoplanet yang diklasifikasikan sebagai 'Super-Bumi'. Penemuan ini menandai momen transformasional dalam pencarian kehidupan di luar Tata Surya kita.
Exoplanet yang menarik perhatian dunia tersebut adalah **K2-18b**. Meskipun judul mencantumkan jarak 42 tahun cahaya, tim peneliti yang dipimpin oleh University of Cambridge mengonfirmasi bahwa K2-18b sebenarnya terletak sekitar **124 tahun cahaya** dari Bumi, di konstelasi Leo. Planet ini merupakan 'Super-Bumi' karena massanya sekitar 8,6 kali lipat dan ukurannya 2,6 kali lipat dari Bumi. K2-18b mengorbit bintang katai merah dalam zona layak huni, yang memungkinkan air cair ada di permukaannya.
Para astronom mengidentifikasi keberadaan gas **dimetil sulfida (DMS)** dan/atau **dimetil disulfida (DMDS)** di atmosfer K2-18b. Di Bumi, DMS dan DMDS hampir secara eksklusif diproduksi oleh kehidupan, terutama mikroorganisme laut seperti fitoplankton. Penemuan ini, yang merupakan sinyal kedua yang lebih kuat dari JWST, telah mencapai tingkat signifikansi statistik 'tiga-sigma'. Namun, para ilmuwan menekankan kehati-hatian, menyatakan bahwa bukti definitif untuk penemuan ilmiah (lima-sigma) masih memerlukan observasi lanjutan.
K2-18b diyakini sebagai planet 'Hycean', yang berarti dunia yang tertutup lautan air cair di bawah atmosfer kaya hidrogen. Observasi JWST sebelumnya pada tahun 2023 telah mendeteksi metana dan karbon dioksida di atmosfernya—molekul berbasis karbon pertama yang ditemukan di exoplanet zona layak huni. Penemuan DMS/DMDS memperkuat skenario bahwa K2-18b adalah dunia Hycean yang potensial dihuni dan mungkin 'penuh kehidupan' mikroba, meskipun proses kimia non-biologis sebagai sumber gas tersebut tidak sepenuhnya dikesampingkan.
Profesor Nikku Madhusudhan, astrofisikawan dari University of Cambridge dan penulis utama studi ini, menyebut momen ini sebagai "momen revolusioner" dalam astrobiologi pengamatan. Langkah selanjutnya adalah melakukan observasi lanjutan dengan JWST untuk mengumpulkan data lebih banyak, yang diharapkan dapat meningkatkan level signifikansi temuan hingga batas lima-sigma, sebuah penemuan yang secara definitif dapat menjawab pertanyaan fundamental: "Apakah kita sendirian di alam semesta?"