Sains

Jejaring Mikroba Pembusuk Mayat Ditemukan Sebagai 'Jam Alami' Penentu Waktu Kematian yang Presisi

Penemuan ilmiah terbaru mengidentifikasi jejaring 20 mikroba pembusuk sebagai 'jam alami' biologis yang dapat menentukan waktu kematian dengan presisi tinggi, terlepas dari kondisi lingkungan.

JAKARTA · Saturday, 08 November 2025 05:00 WITA · Dibaca: 49
Jejaring Mikroba Pembusuk Mayat Ditemukan Sebagai 'Jam Alami' Penentu Waktu Kematian yang Presisi

JAKARTA, JClarity – Penentuan perkiraan waktu kematian, atau Post Mortem Interval (PMI), telah lama menjadi salah satu tantangan terbesar dalam ilmu forensik. Metode tradisional seringkali dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, sehingga akurasinya menurun drastis seiring berjalannya waktu pasca kematian.

Namun, terobosan ilmiah terbaru kini menawarkan solusi yang jauh lebih presisi. Para peneliti telah menemukan sebuah 'jam alami' yang revolusioner: **jejaring mikroba umum** yang bekerja secara terpadu untuk melakukan pembusukan jaringan tubuh. Kelompok mikroorganisme ini, yang terdiri dari sekitar 20 jenis mikroba, beroperasi sesuai jadwal ketat, menjadikannya 'jam biologis' yang dapat menentukan waktu kematian dengan ketepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Studi yang dilakukan oleh para peneliti, termasuk dari Arizona State University, menemukan bahwa mikroorganisme ini memulai proses dekomposisi tubuh secara terorganisir. Pola suksesi bakteri dan jamur ini sangat konsisten, sehingga memungkinkannya untuk memberikan perkiraan PMI yang akurat, terlepas dari variasi kondisi lingkungan di sekitarnya.

Penemuan yang dipublikasikan baru-baru ini ini menunjukkan bahwa 'jam mikroba' tersebut tetap berdetak dengan pola yang sama, baik di hutan beriklim sedang maupun di padang rumput semi-kering. Konsistensi perilaku konsumsi mikroba ini bahkan memungkinkan para ilmuwan untuk mengembangkan model prediktif berbasis machine learning (pembelajaran mesin) dari data lapangan. Model tersebut mampu memprediksi waktu kematian dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Sebelumnya, ilmu forensik mengandalkan teknik seperti pemeriksaan suhu mayat (algor mortis), kekakuan otot (rigor mortis), aktivitas serangga, atau analisis radiokarbon Carbon-14 untuk jenazah yang lebih lama. Akan tetapi, semua metode tersebut memiliki batasan signifikan, terutama akurasi yang memburuk setelah beberapa hari pasca kematian. Sementara itu, temuan 'jam mikroba' ini menawarkan alat komplementer yang potensial bagi ahli forensik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk memecahkan kasus-kasus yang sulit di mana jasad ditemukan lama setelah kematian.

Penggunaan jejaring mikroba sebagai penanda waktu akan memberikan landasan ilmiah yang lebih kuat dalam penyelidikan kriminal. Di tengah kasus-kasus penemuan jasad, seperti temuan kerangka baru-baru ini di Kwitang, Jakarta Pusat, yang memerlukan ketepatan identifikasi dan waktu kematian, teknologi baru ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan tanatologi (ilmu yang mempelajari kematian) di masa depan.

Login IG