Sains

Jaring Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan, Diklaim Bisa Menangkap Seekor Paus.

Jaring laba-laba kolonial terbesar di dunia ditemukan di Gua Sulfur, perbatasan Albania-Yunani. Dihuni 111.000 laba-laba, ukurannya 106 m2, memicu klaim bisa menangkap paus.

Jakarta · Saturday, 08 November 2025 20:00 WITA · Dibaca: 45
Jaring Laba-laba Terbesar di Dunia Ditemukan, Diklaim Bisa Menangkap Seekor Paus.

Jakarta, JClarity – Sebuah penemuan arachnida yang mencengangkan baru-baru ini diumumkan oleh para ilmuwan, yang mengungkapkan apa yang diklaim sebagai jaring laba-laba kolonial terbesar di dunia. Struktur masif ini, yang ditemukan di sebuah gua di bawah perbatasan Albania dan Yunani, memicu perbincangan internasional, terutama karena klaim sensasionalnya bahwa jaring tersebut ‘secara teknis cukup besar untuk menangkap seekor paus’.

Jaring raksasa ini terbentang hingga 106 meter persegi, atau dilaporkan membentang sepanjang 350 meter di terowongan Gua Sulfur. Meskipun mustahil bagi laba-laba untuk benar-benar menjebak mamalia laut raksasa, klaim tersebut digunakan oleh para peneliti dan media untuk menekankan skala luar biasa dari sarang sutra tersebut, yang diyakini merupakan formasi jaring kolonial terbesar yang pernah didokumentasikan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Subterranean Biology, menjelaskan bahwa jaring tersebut bukanlah hasil kerja dari satu laba-laba raksasa, melainkan kolaborasi dari sekitar 111.000 laba-laba. Koloni ‘megacity’ ini terdiri dari dua spesies yang berbeda, yaitu Tegenaria domestica (laba-laba corong gudang) dan Prinerigone vagans (laba-laba jaring lembar), dengan perkiraan 69.000 individu Tegenaria domestica dan lebih dari 42.000 Prinerigone vagans.

István Urák, pemimpin studi dan seorang profesor biologi, menyatakan bahwa temuan ini adalah kasus pertama yang terdokumentasi mengenai pembentukan jaring kolonial sejati pada spesies-spesies ini, yang biasanya tidak berinteraksi dalam skala besar di permukaan. Lingkungan unik Gua Sulfur, dengan ekosistemnya yang kaya akan belerang, diyakini menjadi faktor pendorong di balik perilaku kooperatif yang langka ini.

Para ilmuwan menduga kelimpahan sumber daya makanan di dalam gua menjadi kunci terbentuknya koloni masif ini. Aliran air yang kaya sulfur di dalam gua menciptakan ekosistem kemoautotrofi, di mana mikroorganisme menggunakan reaksi kimia belerang untuk energi. Lapisan bakteri ini menopang populasi larva agas dan serangga, yang pada gilirannya menjadi mangsa utama bagi ribuan laba-laba, memungkinkan mereka untuk membangun dan mempertahankan jaring dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun laba-laba di dalamnya berukuran kecil, temuan ini memiliki implikasi besar bagi biologi evolusioner dan penelitian biomaterial, karena jaring koloni ini menunjukkan adaptasi luar biasa terhadap lingkungan ekstrem dan berpotensi menawarkan wawasan baru tentang integrasi trofik spesies permukaan di habitat bawah tanah. Para peneliti menekankan perlunya perlindungan terhadap lingkungan gua yang rapuh tersebut agar situs ini dapat terus berfungsi sebagai laboratorium alam.

Login IG