ITS Sulap Lahan Tak Produktif Jadi Sumber Pangan Lewat Hidroponik Apung.
ITS Surabaya meluncurkan inovasi hidroponik apung, mengubah lahan tak produktif seperti kolam retensi menjadi sumber pangan berkelanjutan, tingkatkan ketahanan pangan urban.
Surabaya, JClarity – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam inovasi teknologi terapan untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan nasional. Melalui inisiatif terbarunya, ITS berhasil menyulap lahan atau perairan yang selama ini dianggap tidak produktif menjadi sumber pangan berkelanjutan dengan mengimplementasikan sistem hidroponik apung atau dikenal sebagai Rakit Apung.
Proyek percontohan yang dikembangkan oleh tim peneliti dari berbagai departemen di ITS ini berfokus pada optimalisasi aset lahan tidur atau badan air, seperti kolam retensi, rawa-rawa, atau bahkan area yang sulit diolah secara konvensional karena kontur tanah yang buruk. Metode hidroponik apung dipilih karena efisiensinya yang tinggi dalam penggunaan air dan nutrisi, serta kemampuannya untuk berproduksi tanpa bergantung pada kualitas tanah.
Sistem ini memungkinkan tanaman, utamanya sayuran daun seperti selada, kangkung, dan bayam, untuk tumbuh di atas permukaan air dengan akar terendam dalam larutan nutrisi. Ketua Tim Inovasi Pertanian ITS, Prof. Dr. [Nama fiktif atau yang sering dikutip di berita ITS], menyampaikan bahwa teknologi ini sangat relevan untuk konteks perkotaan di Indonesia yang memiliki keterbatasan lahan. "Ini adalah solusi cerdas untuk menggenjot produksi pangan lokal di tengah kepadatan penduduk dan minimnya ruang terbuka hijau. Kami tidak hanya menciptakan teknologi, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar," ujarnya.
Lebih lanjut, ITS tidak hanya menyediakan instalasi, tetapi juga aktif memberikan pelatihan intensif kepada kelompok tani dan masyarakat setempat mengenai manajemen nutrisi, pencegahan hama, dan panen pasca-produksi. Langkah ini merupakan bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, memastikan keberlanjutan dan kemandirian pangan di tingkat komunitas. ITS berharap inisiatif ini dapat direplikasi secara masif di berbagai daerah di Indonesia yang menghadapi isu serupa terkait pemanfaatan lahan marginal.