IPO Raksasa Teknologi 'Naga Sakti' Oversubscribed 300 Kali, Dana Segar Rp 15 Triliun Mengalir ke Bursa.
IPO raksasa teknologi PT Naga Sakti Digital Indonesia Tbk (NADI) cetak rekor oversubscribed 300 kali. Dana segar Rp 15 triliun mengalir ke BEI.
JAKARTA, JClarity – Fenomena luar biasa kembali terjadi di pasar modal Indonesia setelah PT Naga Sakti Digital Indonesia Tbk (NADI), sebuah raksasa teknologi yang fokus pada ekosistem digital dan layanan finansial, resmi mencatatkan saham perdananya (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini. Penawaran umum perdana saham tersebut mencetak rekor fantastis dengan tingkat kelebihan permintaan atau oversubscription mencapai lebih dari 300 kali dari porsi penjatahan terpusat (pooling).
Direktur Utama NADI, Bima Sentosa, dalam konferensi pers di Jakarta, menyatakan bahwa antusiasme investor, baik institusi maupun ritel, melampaui ekspektasi. "Kami mencatat total permintaan investor untuk IPO ini, khususnya di porsi ritel, menghasilkan kelebihan permintaan hingga 300 kali. Ini adalah bukti nyata kepercayaan pasar yang sangat kuat terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan NADI di tengah akselerasi ekonomi digital Indonesia," ujar Bima. Aksi korporasi jumbo ini berhasil menghimpun dana segar senilai total Rp 15 triliun, menjadikannya salah satu IPO terbesar sepanjang sejarah bursa.
Dana hasil IPO senilai Rp 15 triliun tersebut rencananya akan dialokasikan secara strategis. Sekitar 60% akan digunakan untuk ekspansi bisnis, termasuk pengembangan infrastruktur teknologi, penelitian, dan pengembangan (R&D) produk baru, terutama di segmen kecerdasan buatan (AI) dan layanan fintech terintegrasi. Sisanya, 40%, akan dipakai untuk modal kerja guna mendukung percepatan pertumbuhan ekosistem bisnis perseroan di seluruh nusantara. Dengan dukungan ekosistem digital yang kuat, NADI optimis dapat menargetkan penetrasi pasar yang lebih luas.
Kepala Ekonom JClarity Research, Dr. Sinta Dewantari, menilai suksesnya IPO NADI ini mengirimkan sinyal positif yang sangat kuat bagi stabilitas dan gairah pasar modal domestik. "Masuknya dana segar sebesar Rp 15 triliun ke bursa akan memberikan dorongan signifikan bagi likuiditas pasar dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ini juga menegaskan bahwa sektor teknologi, meskipun sempat mengalami fluktuasi, tetap menjadi primadona investasi jangka panjang di Indonesia," jelas Dr. Sinta. Keberhasilan oversubscription 300 kali ini diharapkan dapat menjadi katalis yang menarik lebih banyak perusahaan teknologi besar lainnya untuk segera melantai di BEI.