Inti Bumi Berhenti Berputar Lalu Berbalik Arah, Ilmuwan Ungkap Dampaknya.
Ilmuwan konfirmasi inti dalam Bumi melambat, berhenti, dan mulai berbalik arah relatif terhadap permukaan. Dampaknya minimal, hanya ubah panjang hari sepersekian detik.
JAKARTA, JClarity – Sejumlah ilmuwan baru-baru ini mengonfirmasi temuan mengejutkan mengenai fenomena yang terjadi jauh di bawah permukaan planet kita: inti dalam Bumi melambat, berhenti, dan kini tampak mulai berputar ke arah yang berlawanan, relatif terhadap permukaan. Penemuan ini merupakan konfirmasi dari hipotesis kontroversial yang pertama kali muncul pada tahun 2023 dan diperkuat melalui penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Juni 2024.
Studi terbaru yang dipimpin oleh para ilmuwan dari University of Southern California (USC) dan Cornell University, yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi *Nature*, memberikan bukti tak ambigu bahwa inti dalam Bumi mulai mengurangi kecepatannya sekitar tahun 2008 dan bergerak lebih lambat dari mantel serta permukaan Bumi sejak sekitar tahun 2010. Pergerakan yang lebih lambat ini—yang dikenal sebagai 'mundur' atau *backtracking*—menyebabkan inti dalam terlihat berputar ke arah yang berlawanan dari perspektif pengamat di permukaan planet.
Fenomena ini bukan berarti inti dalam secara absolut berhenti berputar, melainkan perubahannya dalam rotasi diferensial, yaitu perbedaan kecepatan putar antara inti dalam yang padat dengan lapisan luar yang cair dan mantel padat. Para peneliti, termasuk Geofisikawan John Vidale dari USC, menggunakan data gelombang seismik dari gempa bumi berulang yang terjadi di Kepulauan Sandwich Selatan dekat Antartika antara tahun 1991 hingga 2023 untuk memetakan pergerakan ini. Pola gelombang seismik menunjukkan bahwa inti dalam mulai kembali ke jalur rotasi yang pernah dilaluinya beberapa dekade sebelumnya, menandakan siklus pergerakan yang berosilasi.
Para ilmuwan menduga perubahan kecepatan dan arah rotasi ini dipicu oleh interaksi kompleks dua gaya utama: gesekan elektromagnetik yang dihasilkan oleh pergerakan logam cair di inti luar—yang juga menciptakan medan magnet Bumi—dan tarikan gravitasi dari wilayah padat di mantel berbatu di atasnya. Siklus penuh pergerakan osilasi ini diperkirakan terjadi dalam periode sekitar 70 tahun, dengan perubahan arah rotasi terjadi setiap 35 tahun. Fenomena serupa diperkirakan pernah terjadi pada awal tahun 1970-an.
Lantas, apa dampaknya bagi kehidupan di permukaan Bumi? Para ilmuwan menegaskan bahwa efeknya terhadap manusia sangat minimal dan sebagian besar bersifat spekulatif. Dampak yang paling mungkin terjadi adalah perubahan panjang hari sebesar sepersekian detik, diperkirakan dalam orde seperseribu detik. Perubahan kecil ini hampir tidak terasa dan tenggelam dalam 'kebisingan' yang disebabkan oleh pergerakan samudra dan atmosfer. Meskipun demikian, penemuan ini sangat penting karena memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika inti Bumi dan implikasinya terhadap evolusi medan geomagnetik, yang berfungsi sebagai pelindung planet dari angin surya. Penelitian lebih lanjut terus dilakukan untuk memetakan secara rinci lintasan inti dalam guna mengungkap secara pasti mengapa pergeseran ini terjadi.