Ilmuwan Temukan Senyawa PAH Penyebab Kanker di Makanan Sehari-hari.
Penelitian terbaru di jurnal Food Science and Biotechnology menemukan senyawa PAH penyebab kanker dalam kadar tinggi di minyak kedelai, daging bebek, minyak kanola, dan makanan sehari-hari lainnya.
Jakarta, JClarity – Sebuah penelitian terbaru yang signifikan mengungkap adanya senyawa karsinogenik berbahaya, Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH), dalam konsentrasi tinggi pada berbagai jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Temuan ini memperkuat kekhawatiran global mengenai keamanan pangan dan risiko paparan zat penyebab kanker melalui diet rutin.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Food Science and Biotechnology oleh para peneliti dari Seoul National University of Science and Technology, Korea Selatan, mengidentifikasi delapan jenis senyawa PAH yang terkait dengan peningkatan risiko kanker. Senyawa PAH adalah kelompok senyawa kimia berminyak yang terbentuk ketika bahan organik menjalani pembakaran tidak sempurna atau ketika makanan dimasak pada suhu tinggi, seperti menggoreng, memanggang (grilling), mengasap (smoking), atau membakar (barbecuing). Salah satu PAH yang paling terkenal, benzo[a]pyrene (BaP), secara resmi diklasifikasikan sebagai zat pemicu kanker pada manusia.
Dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan metode deteksi baru yang dikenal sebagai QuEChERS (Quick, Easy, Cheap, Effective, Rugged, and Safe) untuk menganalisis berbagai matriks makanan. Hasilnya menunjukkan bahwa makanan dengan kadar kontaminasi PAH tertinggi adalah minyak kedelai, diikuti oleh daging bebek, minyak kanola, dan daging babi. Kontaminasi pada minyak kedelai dan kanola diduga terjadi selama proses produksi, terutama jika biji-bijian dikeringkan menggunakan asap, sementara pada daging bebek, kadar tinggi disebabkan oleh metode pengasapan yang umum digunakan.
Selain itu, makanan lain yang ditemukan mengandung PAH, meskipun pada tingkat yang bervariasi, termasuk daging olahan, susu, belut, ikan kembung, udang, ikan teri, kimchi, dan kue beras. Profesor Joon-Goo Lee, salah satu peneliti utama, menekankan bahwa paparan PAH bagi sebagian besar orang dewasa yang tidak merokok atau bekerja di lingkungan industri terkait PAH, utamanya berasal dari makanan.
Temuan ini menjadi seruan mendesak bagi otoritas pengawasan pangan untuk mempertimbangkan regulasi yang lebih luas, tidak hanya berfokus pada BaP, tetapi pada kelompok delapan PAH secara keseluruhan, karena senyawa-senyawa ini sering muncul bersamaan dan dapat membentuk produk sampingan yang lebih berbahaya. Bagi konsumen, para ahli menyarankan untuk mengurangi konsumsi makanan yang diolah dengan pemanasan tinggi, seperti daging yang dibakar hingga hangus, serta memilih bahan makanan yang lebih mendekati kondisi alami dan belum banyak diproses, sebagai langkah mitigasi untuk melindungi kesehatan dari risiko kanker yang terkait dengan paparan PAH.