Sains

Ilmuwan Gunakan AI untuk Bikin Peta Baru Otak Tikus

Ilmuwan UCSF dan Allen Institute merilis peta otak tikus paling detail dengan 1.300 wilayah menggunakan model AI CellTransformer, revolusi di neurosains.

JAKARTA · Friday, 14 November 2025 02:00 WITA · Dibaca: 56
Ilmuwan Gunakan AI untuk Bikin Peta Baru Otak Tikus

JAKARTA, JClarity – Para ilmuwan dari University of California, San Francisco (UCSF) dan Allen Institute for Cell Science telah merilis peta otak tikus paling detail hingga saat ini, menggunakan model Kecerdasan Buatan (AI) yang dikembangkan khusus bernama CellTransformer. Pencapaian monumental ini, yang diterbitkan di jurnal *Nature Communications* pada 7 Oktober 2025, berhasil mengidentifikasi sekitar 1.300 wilayah dan subwilayah otak, jauh melampaui peta yang pernah dibuat secara manual.

Peta baru ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam studi neurosains global, terutama untuk memahami sirkuit otak dan mengembangkan pengobatan yang lebih terarah untuk berbagai penyakit neurologis. CellTransformer, yang dibangun di atas arsitektur jaringan *transformer* serupa dengan model AI generatif seperti ChatGPT, dirancang untuk memproses data transkriptomik spasial yang sangat besar. Data tersebut berisi informasi tentang aktivitas gen dan posisi spasial lebih dari 9 juta sel di otak tikus.

Pendekatan berbasis data ini menandai kemajuan signifikan karena mampu menghasilkan peta otak tanpa memerlukan anotasi atau interpretasi manual dari para ahli manusia, menjadikannya peta pertama yang sepenuhnya didorong oleh data molekuler dan seluler. Peta sebelumnya, seperti Allen Mouse Brain Common Coordinate Framework (CCFv3), hanya mampu mencakup lebih dari 600 wilayah. Dengan resolusi yang ditingkatkan, AI CellTransformer berhasil memetakan ratusan subwilayah baru yang sebelumnya belum terpetakan atau sulit dibedakan, memberikan pandangan organisasi otak yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut Bosiljka Tasic, Direktur genetika molekuler di Allen Institute for Brain Science, akurasi ini sangat krusial sebab “lokasi adalah segalanya di otak.” Peta yang lebih presisi akan memungkinkan peneliti untuk mengaitkan fungsi, perilaku, dan kondisi penyakit tertentu—termasuk penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer—ke wilayah seluler yang sangat spesifik, sehingga memfasilitasi pengembangan terapi obat yang lebih tepat sasaran dan minim efek samping. Para ilmuwan berharap kerangka kerja AI yang digunakan untuk pemetaan otak tikus ini dapat diperluas aplikasinya untuk memetakan organ lain, bahkan jaringan kanker, membuka wawasan baru di bidang biologi dan kedokteran.

Login IG