Sains

Ilmuwan Garap Inovasi Baterai Hidrogen Dingin, Bisa untuk EV?

Ilmuwan Jepang kembangkan baterai hidrogen solid-state yang beroperasi pada suhu 90°C, jauh lebih dingin. Inovasi ini berpotensi merevolusi baterai EV.

JAKARTA · Tuesday, 21 October 2025 16:00 WITA · Dibaca: 56
Ilmuwan Garap Inovasi Baterai Hidrogen Dingin, Bisa untuk EV?

JAKARTA, JClarity – Ilmuwan di Jepang telah mencatat terobosan signifikan dalam teknologi penyimpanan energi hidrogen, menghadirkan sebuah inovasi baterai hidrogen yang mampu beroperasi pada suhu yang jauh lebih rendah dari metode konvensional. Penemuan ini secara langsung membuka potensi baru untuk pengembangan Kendaraan Listrik (EV) yang lebih padat, tahan lama, dan efisien, menjadikannya pesaing serius bagi dominasi baterai lithium-ion.

Terobosan ini, yang digarap oleh peneliti dari Tokyo Institute of Science dan Kyoto University's Institute of Chemical Research, berpusat pada pengembangan baterai hidrogen berwujud padat yang dapat bekerja pada suhu operasional hanya 90 derajat Celcius (194°F). Angka ini empat kali lebih rendah dibandingkan kebutuhan suhu 300 hingga 400 derajat Celcius yang diperlukan oleh teknologi penyimpanan hidrogen solid-state sebelumnya.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Science, tim ilmuwan menjelaskan bahwa baterai baru ini menggunakan magnesium hidrida (MgH) sebagai anoda dan gas hidrogen sebagai katoda, dengan dukungan elektrolit padat yang memiliki struktur kristal. Inovasi kunci terletak pada pemanfaatan ion hidrida bermuatan negatif (H-) yang dapat bergerak melintasi struktur kristal elektrolit, sebuah mekanisme yang berbeda dari baterai lithium-ion yang mengalirkan ion bermuatan positif.

Menurut Takashi Hirose, penulis utama studi tersebut, sifat-sifat baterai penyimpanan hidrogen ini sebelumnya mustahil dicapai melalui metode termal konvensional atau elektrolit cair. Kemampuan untuk menyimpan hidrogen tanpa memerlukan tekanan tinggi, pendinginan ekstrem, atau suhu operasi yang sangat panas sangat menjanjikan untuk penerapan energi hijau di masa depan.

Potensi terobosan ini untuk industri EV sangat besar. Baterai lithium-ion yang saat ini digunakan di sebagian besar EV dikenal berat dan rentan terhadap degradasi serta penurunan efisiensi, terutama dalam kondisi suhu rendah atau setelah penggunaan berulang. Baterai hidrogen 'dingin' ini menawarkan solusi alternatif yang lebih padat energi, lebih ringan, dan memiliki potensi daya tahan yang lebih lama.

Meskipun demikian, integrasi teknologi hidrogen ke dalam pasar EV masih menghadapi tantangan infrastruktur, terutama di negara-negara seperti Indonesia yang masih fokus pada pengembangan Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (BEV). Di Indonesia sendiri, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kendaraan berbahan bakar hidrogen (FCEV) baru ditargetkan untuk diproduksi pada tahun 2030, meskipun FCEV menawarkan keunggulan seperti waktu pengisian yang sangat cepat—hanya sekitar lima menit—dan jangkauan tempuh yang lebih jauh dibandingkan BEV konvensional.

Pengembangan baterai hidrogen dingin ini diharapkan dapat mengatasi salah satu hambatan terbesar adopsi hidrogen, yaitu persyaratan suhu operasi yang ekstrem, dan semakin mendorong hidrogen sebagai sumber energi utama yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa depan. Jika berhasil dikomersialkan, inovasi ini bisa menjadi katalis untuk gelombang kedua revolusi EV global.

Login IG