IHSG Tembus Level Psikologis 7.500 di Awal Desember, Saham TLKM dan BBCA Jadi Motor Utama.
IHSG BEI mencetak rekor baru di 7.500 pada 1 Desember 2025. Saham PT Telkom Indonesia (TLKM) dan BBCA menjadi penggerak utama penguatan, didukung window dressing akhir tahun.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat performa impresif di awal bulan Desember 2025. Tepat pada pembukaan perdagangan hari Senin (1/12/2025), indeks acuan tersebut berhasil menembus dan bertahan di atas level psikologis 7.500, menandai rekor tertinggi baru sepanjang masa. Kenaikan signifikan ini didorong oleh optimisme pasar yang kuat dan aksi beli investor asing yang terfokus pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap), khususnya di sektor telekomunikasi dan perbankan.
Menurut data penutupan perdagangan, IHSG menguat sekitar 0,87% dan parkir di level 7.515,44. Kontributor utama penguatan indeks ini adalah saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham TLKM tercatat melompat sebesar 2,45% setelah sentimen positif muncul terkait proyeksi kinerja kuartal IV yang solid dan ekspansi strategis di bisnis data center. Sementara itu, BBCA terapresiasi 1,95%, didukung oleh masuknya aliran dana asing (foreign net buy) yang masif serta prospek pertumbuhan kredit domestik yang menjanjikan.
Analis pasar dari J-Capital Sekuritas, Budi Santoso, menyatakan bahwa penembusan level 7.500 ini memiliki makna krusial. "Level 7.500 ini sangat signifikan secara psikologis. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor domestik dan global terhadap fundamental makroekonomi Indonesia yang resilient di tengah tantangan global," ujar Budi. Ia menambahkan bahwa tren kenaikan ini juga dipercepat oleh efek *window dressing*, sebuah fenomena akhir tahun di mana manajer investasi cenderung mempercantik portofolio mereka.
Sektor perbankan, teknologi, dan telekomunikasi diperkirakan akan tetap menjadi penopang utama pergerakan IHSG hingga akhir tahun. Investor diimbau untuk memantau dengan cermat kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan data inflasi global, yang sewaktu-waktu dapat memengaruhi sentimen pasar. Target resistance jangka pendek IHSG selanjutnya diproyeksikan berada di kisaran 7.550 hingga 7.600, selama sentimen positif terhadap saham-saham unggulan terus berlanjut.