Keuangan

IHSG Pecah Rekor Lagi Tembus 8.602: Saham BUMI dan Konglomerasi Jadi Penggerak Utama

IHSG kembali pecah rekor tembus 8.602 hari ini didorong saham energi seperti BUMI dan penguatan masif dari saham-saham konglomerasi big cap dan blue chip.

Jakarta · Thursday, 27 November 2025 02:00 WITA · Dibaca: 29
IHSG Pecah Rekor Lagi Tembus 8.602: Saham BUMI dan Konglomerasi Jadi Penggerak Utama

Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak sejarah baru hari ini, menembus level psikologis dan rekor tertinggi sepanjang masa di 8.602,45. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini melonjak tajam, ditutup menguat signifikan sebesar 1,25% atau setara 106,10 poin, didorong oleh euforia pasar terhadap saham-saham energi dan konglomerasi besar.

Kinerja impresif IHSG ini tak lepas dari aksi beli masif yang terpusat pada beberapa saham utama, khususnya PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie ini menjadi perhatian utama setelah mencatat kenaikan signifikan dengan volume transaksi yang sangat tinggi. Kenaikan BUMI disinyalir terkait sentimen positif harga komoditas batu bara global yang kembali melonjak, serta spekulasi rencana korporasi yang akan berdampak besar pada valuasi perusahaan.

Selain BUMI, saham-saham dari kelompok konglomerasi ‘big cap’ atau kapitalisasi pasar besar juga menjadi penopang utama lonjakan indeks. Saham-saham perbankan raksasa, telekomunikasi, dan sektor konsumen yang dikenal memiliki fundamental kuat, seperti BBCA, BBRI, ASII, dan TLKM, mengalami kenaikan harga signifikan. Aksi beli dari investor asing (net foreign buy) tercatat mengalir deras, menunjukkan tingginya kepercayaan investor internasional terhadap prospek perekonomian domestik.

Analis Pasar Modal dari JClarity Research, Anindya Kusuma, menyatakan bahwa tembusnya IHSG ke level 8.602 merupakan konfirmasi atas kuatnya pondasi ekonomi Indonesia pasca-pemilu yang kondusif dan ekspektasi laporan keuangan kuartal ketiga yang solid. “Kenaikan BUMI seringkali menjadi barometer sentimen spekulatif yang kuat, namun dorongan utama tetap datang dari konglomerasi LQ45. Fundamental ekonomi yang stabil, inflasi terkendali, dan suku bunga yang diproyeksikan mulai turun di tahun depan, membuat pasar saham Indonesia sangat atraktif bagi modal asing,” ujarnya.

Kendati euforia melanda, Anindya mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek setelah rekor tercapai. Level resistensi terdekat diperkirakan berada di kisaran 8.650, sementara level support psikologis yang perlu dipertahankan berada di 8.500. Pasar diperkirakan akan berkonsolidasi sebentar sebelum menguji target selanjutnya, didorong optimisme pertumbuhan laba perusahaan emiten di tahun fiskal yang akan datang.

Login IG