Keuangan

**IHSG Meroket Pagi Ini 13 November 2025, Didorong Sinyal BI Rate dan Stimulus Fiskal**

IHSG BEI meroket 1,58% pada 13 November 2025 pagi, tembus 7.800. Kenaikan didorong ekspektasi BI Rate dipangkas dan pengumuman stimulus fiskal lanjutan Pemerintah.

Jakarta · Friday, 14 November 2025 07:00 WITA · Dibaca: 57
**IHSG Meroket Pagi Ini 13 November 2025, Didorong Sinyal BI Rate dan Stimulus Fiskal**

Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan lonjakan signifikan pada perdagangan Kamis pagi, 13 November 2025. Indeks acuan tersebut langsung meroket ke level psikologis baru, didorong oleh sentimen domestik yang sangat kuat, terutama dari sinyal kebijakan moneter yang lebih akomodatif dan ekspektasi stimulus fiskal dari pemerintah.

Hingga pukul 09.30 WIB, IHSG tercatat menguat tajam sebesar 1,58% atau 124,5 poin, berada di posisi 7.877,4. Kenaikan ini didukung oleh aksi beli masif, terutama oleh investor asing yang mencatatkan net foreign buy signifikan di awal sesi. Sektor keuangan dan infrastruktur menjadi motor penggerak utama, seiring optimisme pasar terhadap prospek pertumbuhan kredit dan belanja modal di tahun mendatang.

Sentimen pertama datang dari Bank Indonesia (BI). Pasar merespons positif pidato Gubernur BI pada Rabu malam yang mengisyaratkan fokus bank sentral untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Meskipun BI Rate (sekarang disebut BI-7 Day Reverse Repo Rate) dipertahankan pada pertemuan terakhir, sinyal kuat muncul bahwa BI siap mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuan pada kuartal IV/2025 atau awal 2026, jika inflasi dan nilai tukar Rupiah tetap terkendali. Ekspektasi 'dovish' ini sontak meningkatkan minat risiko di pasar saham.

Selain itu, dorongan signifikan datang dari kebijakan fiskal. Sumber terpercaya menyebutkan bahwa Pemerintah akan segera mengumumkan detail paket stimulus fiskal lanjutan, yang dikabarkan akan berfokus pada insentif pajak bagi sektor manufaktur padat karya dan percepatan realisasi belanja infrastruktur pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Stimulus ini diharapkan mampu menjaga daya tahan perekonomian nasional di tengah perlambatan global.

Analis senior dari Clarity Sekuritas, David Gunawan, menilai kombinasi kebijakan moneter dan fiskal ini adalah 'sweet spot' yang dinanti pasar. “Sinyal penurunan suku bunga BI diiringi dengan komitmen stimulus fiskal yang jelas menciptakan landasan kuat bagi kenaikan IHSG. Ini mengirim pesan bahwa Pemerintah dan otoritas moneter bersinergi penuh untuk mendorong pertumbuhan. Investor domestik dan asing kini lebih berani mengambil posisi beli, khususnya pada saham-saham blue chip yang prospektif,” ujar David.

Dengan fundamental yang didukung kebijakan ganda ini, IHSG diperkirakan akan mempertahankan momentum kenaikan hingga penutupan sesi. Level resistensi terdekat diproyeksikan berada di 7.900, dengan potensi menembus 8.000 sebelum akhir tahun.

Login IG