IHSG Hari Ini 2 Desember 2025 Kembali Cetak Rekor, Rupiah jadi Penopang
IHSG hari ini 2 Desember 2025 ditutup kembali cetak rekor di atas 7.850. Penguatan signifikan ini ditopang oleh Rupiah yang menguat solid di level Rp 14.520 per Dolar AS.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengukir sejarah pada penutupan perdagangan Selasa, 2 Desember 2025. Setelah sempat bergerak fluktuatif di awal sesi, indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut ditutup menguat signifikan, mencapai level rekor tertinggi baru yang menembus batas psikologis 7.800. Kekuatan fundamental mata uang Rupiah menjadi penopang utama lonjakan optimisme pasar.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berakhir di level 7.854,21, mencatatkan kenaikan sebesar 1,15% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Kenaikan masif ini ditopang oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing yang tercatat mencapai Rp 1,2 triliun, menandakan derasnya aliran modal asing masuk (capital inflow) ke pasar domestik. Pada saat yang sama, kurs Rupiah terhadap Dolar AS terpantau menguat solid. Data pasar interbank menunjukkan Rupiah stabil di level Rp 14.520 per Dolar AS, merefleksikan tingginya kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.
Analis pasar dari PT J-Clarity Sekuritas, Aisyah Wardana, menyatakan bahwa peran Rupiah sangat krusial dalam pencapaian rekor IHSG kali ini. “Kestabilan Rupiah yang terjaga di bawah level Rp 14.600 telah meredam kekhawatiran inflasi impor dan secara signifikan mengurangi risiko nilai tukar bagi perusahaan yang memiliki liabilitas dalam mata uang asing. Ini memberikan kepastian bagi investor global,” ujarnya. Menurutnya, kondisi Rupiah yang kuat ini menjadi magnet bagi 'hot money' untuk berinvestasi, terutama di saham berkapitalisasi besar (big caps) dan saham berbasis komoditas yang harga jualnya diuntungkan oleh kurs yang stabil.
Sektor keuangan dan teknologi menjadi motor utama penggerak IHSG, dengan saham-saham perbankan mencatatkan kenaikan rata-rata 2% lebih, menunjukkan ekspektasi kinerja kuartal IV 2025 yang cerah. Selain faktor Rupiah, sentimen positif juga datang dari data manufaktur PMI Indonesia yang tetap ekspansif dan solid, didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi Kuartal IV 2025 yang diperkirakan oleh Bank Indonesia akan berada di atas 5,1%.
Dengan pencapaian rekor ini, pasar diperkirakan akan memasuki periode 'rally' yang kuat hingga akhir tahun. Investor domestik dan asing diperkirakan akan melanjutkan akumulasi saham seiring mendekatnya periode window dressing, didukung pula oleh potensi bank sentral global mulai mengendurkan kebijakan suku bunga yang menjadi katalis positif bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia.