IHSG Ambrol 1,5% Dipicu Aksi Jual Asing: Saham Sektor Perbankan Jadi Beban Utama
IHSG anjlok 1,5% dipicu aksi net sell asing besar-besaran senilai Rp 1,2 T. Saham perbankan big caps seperti BBCA & BBRI menjadi beban utama penekan indeks.
Jakarta, JClarity – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari Rabu, 29 Oktober 2025, dengan pelemahan tajam. Indeks acuan tersebut ambrol 1,5%, tergerus oleh tekanan aksi jual (net sell) yang masif dari investor asing. Sentimen negatif ini menempatkan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) sebagai pemberat utama laju indeks.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG parkir di level 7.050,45, melanjutkan tren koreksi yang terjadi sejak pembukaan sesi kedua. Aksi jual bersih investor asing tercatat mencapai angka signifikan, yakni sekitar Rp 1,2 triliun di pasar reguler. Jumlah tersebut merupakan salah satu angka net sell terbesar dalam sepekan terakhir, mengindikasikan kuatnya sentimen keluar dana asing (capital outflow) dari pasar domestik.
Sektor keuangan, terutama sub-sektor perbankan, menjadi penyumbang terbesar penurunan poin IHSG. Empat bank besar yang dikenal sebagai 'Big Four' kompak mengalami koreksi signifikan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) anjlok paling dalam sebesar 3,0%, diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melemah 2,5%. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masing-masing terkoreksi 2,1% dan 1,9%.
Analis Pasar Modal dari PT Sinar Asia Sekuritas, Adrian Setyawan, menjelaskan bahwa pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor teknikal dan fundamental. "Ada sentimen risk-off global menyusul data ekonomi AS yang kurang meyakinkan, yang kemudian mendorong penguatan Dolar AS. Hal ini secara otomatis membuat investor asing menarik dananya dari emerging markets seperti Indonesia. Saham bank menjadi target utama karena likuiditasnya tinggi dan sudah mencatatkan kenaikan cukup pesat sebelumnya, memicu profit taking," ujar Setyawan.
Selain faktor asing, tingginya kekhawatiran domestik terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) juga menambah tekanan jual. Para pelaku pasar kini diperkirakan akan mencermati rilis data inflasi dan notulen pertemuan bank sentral AS (The Fed) untuk mencari petunjuk arah pergerakan pasar di pekan-pekan selanjutnya. Volatilitas tinggi diprediksi masih akan mewarnai perdagangan jangka pendek.